Pakai Mesin Zaman Belanda, Pabrik Gula BUMN Sulit Berkembang

Pakai Mesin Zaman Belanda, Pabrik Gula BUMN Sulit Berkembang

- detikFinance
Minggu, 25 Mar 2012 11:16 WIB
Pakai Mesin Zaman Belanda, Pabrik Gula BUMN Sulit Berkembang
Madiun - Produksi gula dalam negeri selama ini tak pernah mencukupi permintaan pasar sehingga Indonesia harus terus mengimpor. Produksi lahan tebu yang kian terbatas dan inefisiensi di pabrik tebu menjadi alasan utama.

"Kita kan sudah berabad-abad mesin kita itu ada perubahan sejak jaman belanda. Teknologi tidak berkembang, yang kedua secara faktual kita harus mengakui kalau lahan tebu kita terus menyusut dan tanah kita juga tidak produktif sehingga membutuhkan pupuk berakibat pada ketidak efisienan yang tinggi," kata Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro, seperti dikutip detikFinance, Minggu (25/3/2012)

Ismed juga mengatakan, kini petani lebih berminat menanam padi dan palawija ketimbang tebu karena nilai tambahnya jauh lebih tinggi. Hal ini berakibat pada daya pasok tebu rakyat lambat laun makin berkurang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sehingga secara umum lahan dan minat menanam tebu semakin berkurang. Yang kedua harus diakui juga produktivitas pabrik gula semakin menurun karena telah ada sejak jaman Belanda," katanya.

Kondisi pabrik-pabrik gula milik BUMN, berbeda jauh dengan pabrik gula milik swasta seperti di Lampung antaralain Sugar Group dan Gunung Madu. Swasta telah menggunakan mesin-mesin moderen sehingga lebih efisien. Hasilnya produktivitasnya tinggi dan secara investasi sangat menguntungkan.

"Sekarang juga ditambah dengan gula-gula refinasi, itu sejujurnya yang membuat gula tebu yang diproduksi oleh PTPN dan RNI menjadi kalah secara produktivitas dan efisiensinya," katanya.

Menurutnya pemerintah dan BUMN harus mencari lokasi baru dan berinvestasi membangun konsorsium pabrik di luar Jawa sebagai solusi untuk mencapai swasembada gula.


(hen/wep)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads