"Kita kan sudah berabad-abad mesin kita itu ada perubahan sejak jaman belanda. Teknologi tidak berkembang, yang kedua secara faktual kita harus mengakui kalau lahan tebu kita terus menyusut dan tanah kita juga tidak produktif sehingga membutuhkan pupuk berakibat pada ketidak efisienan yang tinggi," kata Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro, seperti dikutip detikFinance, Minggu (25/3/2012)
Ismed juga mengatakan, kini petani lebih berminat menanam padi dan palawija ketimbang tebu karena nilai tambahnya jauh lebih tinggi. Hal ini berakibat pada daya pasok tebu rakyat lambat laun makin berkurang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi pabrik-pabrik gula milik BUMN, berbeda jauh dengan pabrik gula milik swasta seperti di Lampung antaralain Sugar Group dan Gunung Madu. Swasta telah menggunakan mesin-mesin moderen sehingga lebih efisien. Hasilnya produktivitasnya tinggi dan secara investasi sangat menguntungkan.
"Sekarang juga ditambah dengan gula-gula refinasi, itu sejujurnya yang membuat gula tebu yang diproduksi oleh PTPN dan RNI menjadi kalah secara produktivitas dan efisiensinya," katanya.
Menurutnya pemerintah dan BUMN harus mencari lokasi baru dan berinvestasi membangun konsorsium pabrik di luar Jawa sebagai solusi untuk mencapai swasembada gula.
(hen/wep)











































