"Indonesia merupakan Arab Saudinya perkebunan dan industri karet. Tapi sistem pengelolaannya masih tradisional. Padahal harga karet saat ini terus melonjak," tegas Arifin dalam acara program pasca sarjana Institut Pertanian Bogor di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Sabtu (26/5/2012).
Dikatakan Arifin, dirinya pun juga mulai merambah bisnis karet ini. Namun dia mengaku berbisnis karet karena punya rencana untuk mensejahterakan para petani karet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga karet dikatakan Arifin di 2011 mencapai US$ 3.149 per kg, sekarang harganya naik menembus US$ 3.758 per kg, jadi peluang bisnisnya sangat besar. belum lagi, luas areal karet Indonesia sangat besar dibandingkan Malaysia dan Thailand.
Pendapatan ekspor Indonesia dari karet sejak 2006 hingga 2011 terus meningkat, dari US$ 4,32 miliar di 2006 menjadi US$ 11,762 miliar.
"Tapi hal ini tidak sejalan dengan upah minimum pekerjanya. Di Indonesia upah minimumnya rendah Rp 1,379 juta, di Malaysia Rp 2,7 juta, dan di Thailand Rp 2,6 juta," kata Arifin.
Melihat peluang yang besar ini, Arifin menyatakan, industri karet Indonesia bisa lebih maju dengan kebijakan baru yang harus segera dirumuskan pemerintah. Model dan mentalitas baru juga harus diupayakan.
"Pertama harus ada upaya meningkatkan produktivitas kebun karet petani, peremajaan bibit unggul, dan pembudidayaan secara mutakhir," tegas Arifin.
(dnl/dnl)











































