Investasi mesin ini untuk 2 kebun Hak Guna Usaha (HGU) milik PT RNI yaitu di PG Subang dan PG Jatibaru.
Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro menjelaskan, hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan. Pada tahun anggaran 2013, perusahaannya akan menggelontorkan dana Rp 16 Miliar untuk membeli 4 harvester yang masing-masing senilai Rp 4 Miliar
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk 1 mesin penebang, kemampuan tebangnya setara dengan 400 tenaga kerja manual. Ismed menerangkan, dengan adanya mekanisasi ini, setidaknya 60% produktivitas akan tertutup.
"Dalam sehari satu mesin ini bisa menghasilkan 400 ton tebu, setidaknya bisa menutup 60% produksi dari mekanisasi ini, 40% sisanya dari manual tenaga kerja," terangnya.
Sementara ini, PT RNI telah memiliki 2 harvester yang beroperasi di kebun tebu milik PG Subang seluas 5100 hektar, dan kebun milik PG Jati Tujuh yang memiliki 12 ribu hektar.
"Masing-masing 1 harvester, di Jati Tujuh dan Subang. Itu setara dengan 400 orang atau bisa mencakup 5 hektar lahan sehari," katanya.
Ismed mengatakan, kurangnya minat masyarakat untuk menjadi penebang juga menjadi alasan lain dalam pengadaan mekanisasi ini. "Sekarang soalnya orang-orang lebih milih kerja di garmen, itu lebih bergengsi daripada menjadi penebang tebu," tutupnya.
(zlf/hen)











































