Ini 3 Kunci Sukses Revitalisasi Industri Gula

Ini 3 Kunci Sukses Revitalisasi Industri Gula

- detikFinance
Minggu, 12 Agu 2012 13:29 WIB
Ini 3 Kunci Sukses Revitalisasi Industri Gula
Jakarta - Indonesia pernah menjadi negara penghasil gula terbesar di dunia setelah Kuba, pada era kolonial. Namun, kini produksi gula Indonesia terus turun. Sementara kebutuhan terus naik. Hasilnya hampir 60% kebutuhan gula harus diimpor setiap tahun.

Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Subiyono mengatakan, industri pergulaan nasional membutuhkan tiga langkah strategis, yaitu efisiensi, diversifikasi, dan optimalisasi. Tiga langkah tersebut saling berkaitan dalam menunjang program revitalisasi industri gula.

Subiyono mengatakan, inefisiensi adalah masalah vital dalam industri gula nasional. Karena inefisiensi, banyak bagian dari tebu yang terbuang saat proses pengolahan (off-farm) di pabrik gula (PG). Hal ini pula yang membuat rendemen (kadar gula dalam tebu) rendah. Menurutnya jika pengolahan di PG tidak efisien, produksi tak akan berjalan maksimal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harus dilakukan mapping di sistem off-farm untuk mengetahui di bagian mana ada inefisiensi. Dari sana kita juga bisa tahu hilangnya rendemen," kata Subiyono dalam keterangan tertulisnya, Minggu (12/8/2012)

Masalah inefisiensi lainnya juga tampak pada penggunaan bahan bakar. Subiyono menegaskan bahwa tebu adalah tanaman yang punya karakteristik sebagai sumber energi. Karena itu, sudah seharusnya PG bisa hemat bahan bakar fosil.

"Harus didisiplinkan saat giling keluar ampas atau bagas dalam jumlah yang cukup untuk bahan bakar," serunya..

Terkait diversifikasi, Subiyono mengatakan, sudah saatnya kini PG fokus menggarap produk non-gula. Menggarap produk turunan tebu sangat penting mengingat setiap batang tebu tak hanya mengandung gula. Tapi juga berbagai macam jenis yang bisa dimanfaatkan secara ekonomis. Diversifikasi ini diyakini bisa dijalankan tanpa harus mengganggu tugas pemenuhan gula sebagai sumber pangan.

"Industri ini sudah saatnya bertransformasi menjadi industri berbasis tebu (sugarcane based industry) yang menggarap dari hulu ke hilir," katanya.

Menurutnya melalui diversifikasi, PG bisa mengurangi risiko pengusahaan tebu secara menyeluruh. Biaya produksi terus meningkat seiring dengan upah tenaga kerja dan ongkos tebang-angkut tebu yang naik. Sementara marjin dari penjualan gula tidak bisa dibuat setebal mungkin karena faktor daya beli konsumen.

"Harga gula sendiri fluktuatif. Tapi di sisi lain, harga produk turunan lainnya cukup menjanjikan. Sehingga ke depan PG harus serius menggarap produk non-gula secara serius," tuturnya.

Mengenai optimalisasi kapasitas giling yang menjadi langkah kunci ketiga harus dilakukan untuk menggenjot produktivitas. Sebanyak 62 PG yang ada di Indonesia saat ini berkapasitas giling 205.000 ton tebu per hari (TCD).

Menurutnya dengan asumsi rendemen 8,5 persen dan hari giling 170 hari, maka produksi gula seharusnya bisa menembus 2,96 juta ton. Saat ini produksi gula baru berkisar 2,3 juta ton. Artinya, kapasitas belum dioptimalkan. Namun, soal optimalisasi kapasitas ini juga bergantung dari pasokan tebu petani.

"Karena itu, pembenahan dari sisi off-farm ini harus pararel dengan revitalisasi on-farm, seperti penggunaan varietas unggul, pola penanaman yang tepat, dan penambahan lahan," katanya.


(hen/wep)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads