Hal ini dikemukan oleh Direktur Sautheast Asean Food & Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Purwiyatno Hariyadi di acara pameran makanan dan minuman di JIExpo Kemayoran, Rabu (3/10/2012).
Menurutnya hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang tidak jelas terhadap pengelolaan sektor industri pangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Purwiyatno menuturkan minat masyarakat Indonesia mengkonsumsi vitamin C hanya 22 persen dari total penduduk secara keseluruhan, walaupun setiap tahun terjadi kenaikan. Ia optimistis kebutuhan terhadap vitamin C akan terus tumbuh.
"Dari tahun ke tahun pertumbuhan permintaan menunjukkan peningkatan karena secara statistik konsumsi vitamin oleh masyarakat masih kecil, yakni 22 persen. Jadi, potensi pasar di bisnis ini masih sangat besar dan kita belum punya pabriknya," katanya.
Peningkatan pertumbuhan konsumsi vitamin, khususnya vitamin C seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Purwiyatno memberikan saran kepada pemerintah untuk memberikan insentif
"Kita punya ilmu pengetahuan bahkan teknologi pun kita punya. Insentif pemerintah penting untuk mengembangkan sesuatu yang baru. Jangka panjang harus ada industrialisasi yang kuat. Yang selama ini masih kurang kebijakan pemerintah," tutupnya.
Selain vitamin C, Indonesia juga rutin melakukan impor Betakaroten. Padahal Indonesia penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Zat Betakaroten berasal dari produk hilir minyak sawit.
(wij/hen)











































