HIPMI Ingatkan Pemerintah Agar Kasus BlackBerry Batal Bangun Pabrik Tak Terulang

- detikFinance
Senin, 10 Des 2012 18:10 WIB
Jakarta - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendesak pemerintah agar segera membangun infrastruktur yang menopang dunia usaha dan investasi. Hal ini bertujuan untuk semakin menarik minat investor untuk berinvestasi di Indonesia dan mencegah larinya investor untuk berinvestasi di negara lain.

Ketua V DPP HIPMI Erik Hidayat mengatakan infrastruktur di Indonesia masih dinilai kurang memadai untuk menopang investasi seperti elektronika berteknologi tinggi. Ia mengingatkan batalnya perusahaan elektronika Research In Motion (RIM) Blackberry asal Kanada untuk berinvestasi di Indonesia karena persoalan infrastruktur.

"Pabrik BB (BlackBerry) lari ke Malaysia daripada disini. Salah satu faktornya karena infrastruktur," ungkap Erik saat acara Press Conference HIPMI Economic Outlook 2013, di Gedung DPP HIPMI, Palma One, Kuningan Jakarta, Senin (10/12/12).

Ia menambahkan, pemerintah harus segera mempercepat pembangunan infrastruktur ini, jika tidak itu akan membuat iklim investasi dalam negeri merosot.

"Ini hal yang paling mendasar bagi pemerintah," lanjutnya.

Anggapan tersebut diperkuat dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Ketua VI DPP HIPMI, Bahlil Lahadialah, Indonesia berada dalam peringkat 85 urusan infrastruktur. Kalah dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

"Kita urutan 85 di dunia, jauh dikalahkan Singapura dan Malaysia. Ini karena infrastruktur kita jelek. Alokasi untuk infrastruktur itu 2% (dari APBN)," ungkap Bahlil.

Selain risiko larinya investor, Bahlil mengatakan produk dalam negeri pun akan kalah bersaing dengan produk impor yang akan membanjiri pasar dalam negeri jika infrastruktur ini tak segera dibenahi.

"Bukan tidak mungkin nanti produk luar yang masuk ke Indonesia ini akan jauh lebih murah dibanding produk lokal," tandasnya.

(zul/hen)