Ketua Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso Trisetyo Budiman mengungkapkan, hal ini mengingatkan pada tahun 2007 silam. Saat itu, 80% pedagang mie dan bakso berhenti berdagang karena kasus bakso yang menggunakan boraks dan daging tikus.
"Kita sudah pernah mengalami ini pada tahun 2007, di mana 80% pedagang bakso kolaps (bangkrut) karena isu seperti ini," ungkap Trisetyo saat dihubungi detikFinance, Rabu (12/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menurut data kami ada sekitar 3-3,5 juta pedagang bakso. Hitung dari sekian dia punya karyawan, anak, dan keluarga. Ini sangat berbahaya, ada sekitar 15 juta orang menopangkan hidupnya pada bakso," tegasnya.
"Ini akan menimbulkan pengangguran," imbuhnya.
Dia mengkhawatirkan kasus di 2007 tersebut akan terulang karena ulah dari oknum pemilik kios penggilingan bakso babi asal Cipete ini. Karena menurutnya, akan sangat sulit untuk mengembalikan kepercayaan konsumen jika kasus seperti ini sudah terjadi.
"Pemulihannya butuh waktu sampai 6 bulan untuk mengembalikan kepercayaan pembeli itu," pungkasnya.
Seperti diketahui sebuah kios penggilingan daging yang menjual butiran bakso mengandung daging babi digerebek polisi. Sang pemilik diduga mencampurkan daging babi ke dalam baksonya karena harga daging sapi melambung tinggi.
(zul/dnl)











































