10 Perusahaan Korsel Bakal Hengkang Diam-diam dari RI

10 Perusahaan Korsel Bakal Hengkang Diam-diam dari RI

- detikFinance
Jumat, 25 Jan 2013 17:03 WIB
10 Perusahaan Korsel Bakal Hengkang Diam-diam dari RI
Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) tidak akan mempublikasikan 10 perusahaan padat karya asal Korea Selatan yang berniat untuk hengkang dari Indonesia tahun ini. termasuk

Wakil Sekretaris Jenderal Apindo Franky Sibarani menuturkan, 10 perusahaan ini tidak mau dipublikasikan, bahkan mereka tidak akan melapor kepada pemerintah. Alasannya, mereka khawatir, jika dipublikasi bakal menjadi bumerang.

"Kalau dipublikasi, nanti mereka didemo lagi, kan mereka susah," ungkap Franky kepada detikFinance, Jumat (25/1/2013)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Franky, pemerintah tidak akan berbuat banyak kala 10 perusahaan tersebut akan hengkang. Sehingga, melapor ke pemerintah hanya akan merugikan perusahaan sendiri.

"Susah, pemerintah juga akan membiarkan proses (demonstrasi) itu. Jadi bagaimana mau lapor, lapor juga rugi," ucapnya.

Dari 10 perusahaan tersebut, Franky mengaku sudah ada 2 perusahaan yang hengkang secara diam-diam pada Desember 2012. Sementara lainnya, dimungkinkan akan hengkang pada triwulan I-2013.

"Januari ini sedang pada proses, triwulan I itu sudah pada hengkang," sambung Franky.

Sebelumnya diberitakan, bakal ada 10 ribu karyawan yang terkena PHK akibat hengkangnya 10 perusahaan ini. Jumlah tersebut terhitung banyak karena 10 perusahaan ini merupakan padat karya.

Dikatakan Franky, langkah PHK yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini sebenarnya juga memberatkan perusahaan. Sebab, perusahaan tetap harus mengeluarkan uang pesangon.

"Itu proses yang berlangsung sekarang, cukup lama, karena kemampuan mereka buat bayar itu kan beda-beda," tutupnya.

Seperti diketahui, 10 perusahaan ini ingin hengkang karena kenaikan upah yang sangat tinggi. Perusahaan-perusahaan ini berancang-ancang untuk memindahkan investasinya kenegara tetangga Indonesia, sebut saja Kamboja, Vietnam, bahkan China.

"Kamboja itu UMP di sana hanya Rp 400.000/bulan tetapi minim infrastruktur jadi belum begitu bagus. Vietnam dan China upah mereka lebih rendah 15%," kata Sekjen Apindo Suryadi.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads