"Menteri energi dan mineral disana menginginkan agar kita pernah impor banyak fosfat dari Tunisia tetapi setelah itu turun. Sehingga mereka mengharapkan Indonesia bisa mengimpor kembali dengan kontrak jangka panjang dan dengan harga yang bisa disesuaikan," ungkap Suswono saat berdiskusi dengan media di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta, Senin (29/04/2013).
Selain itu pihaknya juga menyepakati pemanfaatan mesin dan teknologi proses minyak zaitun yang akan digunakan untuk melakukan pengolahan terhadap sawit asal Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dimaksud agar produk turunan sawit Indonesia dapat masuk ke pasaran Eropa dan Timur Tengah. Sehingga nantinya Indonesia akan mendapatkan nilai tambah dari produk turunan minyak sawit itu.
"Tunisia itu sebagai negara yang mempunyai posisi menguntungkan karena berbatasan dengan Eropa dan Timur Tengah jadi dapat menjadi pintu masuk produk minyak sawit Indonesia. Jadi Tunisia bisa dijadikan hub dan sawit bisa kita potensialkan," jelasnya.
(wij/hen)










































