Perseroan juga menggarap pakaian dengan merek-merek internasional papan atas. Setelah Zara dan Timberland, kini perusahaan tekstil asal Solo ini menggarap pakaian merek Uniqlo asal Jepang dengan nilai ekspor US$ 30 juta.
"Merek Zara dan Timberland itu dulu, sekarang fokusnya enggak ke situ lagi. Kita produksi buat merek Uniqlo. Ada juga H&M, Gymboree, Guess, dan lain-lain," kata Corporate Secretary Sritex Welly Salam saat dihubungi detikFinance, di Jakarta, Senin (20/5/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk merek Uniqlo, kata Welly, perseroan membidik angka ekspor sebesar US$ 30 juta sepanjang tahun 2013. Sementara untuk tahun 2014, perseroan menargetkan bisa mengincar angka ekspor sebesar US$ 50 juta. Sedangkan tahun 2015 perseroan menargetkan sebesar US$ 100 juta hingga US$ 150 juta.
Dia menyebutkan, perseroan telah memproduksi produk garmen seperti seragam militer, seragam untuk korporasi, institusi, pakaian olahraga, serta pakaian dengan merek-merek internasional papan atas.
Saat ini, kata dia, Sritex telah memasok lebih dari 30 negara di seluruh dunia.
"Posisi tekstil Indonesia sangat baik. Kalau kita lihat laporan perindustrian, ekspor tekstil kita naik secara global," kata dia.
(ang/ang)










































