Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi Darodjatun Sanusi mengatakan, perusahaan-perusahaan farmasi saat ini cukup terkena dampak pelemahan rupiah. Hal itu karena sebagian besar bahan baku untuk produk farmasi diperoleh dari impor.
"Pasti ada dampaknya ya. Kalau rupiah masih terus melemah ya nanti akan ada kenaikan tapi kita belum tau kapan akan kita naikkan tergantung fluktuasi rupiah. Nanti ada kenaikan harga 10% untuk obat tanpa nama dagang, kalau dengan nama dagang akan dinaikkan 6%," kata Darodjatun dalam acara Breakfast Meeting dengan tema Membahas Tentang Strategi Peningkatan Daya Saing Industri Kesehatan Indonesia di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (28/8/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita pertimbangkan hal-hal itu. Komponen-komponen itu berpengaruh karena itu satu kesatuan," ujarnya.
Namun, dia mengaku, hingga saat ini belum ada kenaikan bahan baku dari negeri impor seperti India, China, Jepang, Korea, dan Eropa. Dia menyebutkan, saat ini stok bahan baku masih tersedia.
"Stok bahan baku biasanya untuk 2-3 bulan. Kita impor paling banyak dari India dan China. Harga bahan baku belum terpantau naik, jadi rencana kenaikan harga semata-mata karena unsur pelemahan rupiah terhadap dolar. Kalau obat pemerintah tidak naik sampai akhir tahun karena sudah ada kepastian dan perjanjian," kata dia.
(drk/dru)











































