Selain melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), kalangan perajin tahu dan tempe menuduh adanya ulah spekulan. Spekulan atau importir kedelai dengan sengaja menimbun pasokan agar harga kedelai melonjak.
"Jadi selain melemahnya nilai tukar rupiah, ada upaya spekulan atau importir yang sengaja menahan barang dan mengeluarkan sedikit demi sedikit sehingga harga kedelai melonjak," ungkap Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu/Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin kepada detikFinance, Senin (2/9/2013).
Adanya ulah nakal importir sudah mulai diendus perajin tempe-tahu karena terbatasnya jumlah pasokan dari tangan importir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aip menambahkan kejadian ini sudah dimulai sejak awal Agustus 2013. Harga kedelai terus melonjak padahal di bulan Juli harga rata-rata kedelai hanya Rp 6.700-7.100/kg.
"Pertengahan Agustus 2013 itu sudah puncaknya harga kedelai naik. Awal Agustus sudah dimulai tetapi jika dipantau pada akhir bulan Juli itu harga kedelai hanya Rp 6.700-7.100/kg lalu naik tiba-tiba Rp 9.000/kg," katanya.
Namun jika dia menghitung pengaruh melemahnya nilai rupiah, harga kedelai seharusnya hanya mengalami kenaikan harga sebesar 20%.
"Kalau rupiah melemah, pengaruhnya hanya naik harganya 20% jadi harganya Rp 8.000-an/kg dari harga lama Rp 6.700-7.100/kg," tuturnya.
(wij/dru)










































