Menurut Ketua II Gabungan Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo) Sutaryo, jumlah kerugian perajin tahu-tempe di Jakarta saja mencapai Rp 2,9 miliar/hari. Kebutuhan kedelai di Jakarta saat ini rata-rata 10.000 ton per bulan atau kurang lebih 330 ton/hari.
"Setiap hari biasanya Gakoptindo menggunakan 330 ton kedelai (Jakarta). Jika harganya 1 kg kedelai Rp 9.000/kg, maka jumlah kerugian kita mencapai Rp 2,9 miliar/hari," ungkap Sutaryo kepada detikFinance, Senin (9/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua provinsi jumlah perajinnya lebih dari 115.000. Yang paling besar itu para perajin ada di Aceh, Palembang dan Pulau Jawa," imbuhnya.
Salah satu yang menjadi pemicu mogoknya para perajin tahu dan tempe mulai hari ini adalah karena harga kedelai yang terus melambung. Melambungnya harga kedelai disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
"Padahal harga normal kedelai hanya Rp 7.500-7.700/kg, saat ini sudah Rp 9.000/kg bahkan ada yang sudah Rp 10.000/kg. Sebabnya karena nilai tukar rupiah yang terus anjlok," cetusnya.
Sutaryo pernah mengatakan kebutuhan kedelai di Jakarta saat ini rata-rata 10.000 ton per bulan. Sementara total kebutuhan kedelai secara nasional mencapai 2,4 juta ton per tahun, sebanyak 80% dipakai untuk tempe dan tahu. Dari total kebutuhan 2,4 juta ton, sebanyak 600.000-700.000 ton dipasok dari dalam negeri sementara kedelai impor mencapai 1,7 juta-1,8 juta ton.
(wij/hen)











































