Seorang pedagang tahu tempe bernama Prapti (52) kini memilih berjualan gembus, makanan dari ampas tahu yang biasa digunakan untuk makan ternak. Selain itu Prapti juga menjual tauge untuk pendapatan tambahan.
"Nggak ada tempe ya jualnya gembus. Ini harganya cuma Rp 200, padahal kalau tempe Rp 1.000 ukurannya sama," kata Prapti di pasar Johar Semarang, Senin (9/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pedagang lainnya yang bernama Yayuk (49) juga mengeluhkan karena ia tak bisa berdagang tahu dan tempe sejak pagi tadi. Yayuk pun mencari akal agar tetap memperoleh pendapatan, ia bekerja sementara kepada pedagang bawang merah dan membantu mengupas.
"Ini kerja mengupas upahnya Rp 1.000 perkilogram. Jadi ya kalau 10 kilogram baru dapat Rp 10.000," katanya.
Tidak sedikit kios penjual tahu dan tempe di pasar Johar yang ditinggal oleh pemiliknya. Suasana ramai pedagang dan pembeli di komplek pedagang tahu dan tempe pun tak lagi terlihat.
"Di sini (satu komplek) ada sekitar enam pedagang yang tidak jualan. Di tempat lain di Johar juga sama, tidak ada yang jualan," timpal Maria Ulfa (54) pedagang lainnya.
Mogoknya perajin tahu dan tempe, tak hanya membuat merana para pedagang di pasar induk Johar, para konsumen pun kebingungan. Misalnya Rohani (55) pemilik warung makan di daerah Pekojan kebingungan mencari tempe. Ia sudah berkeliling pasar Johar mencari makanan dari kedelai itu namun sama sekali tidak menemukannya.
"Sudah muter-muter di sini. Pasar lain juga nggak ada. Terpaksa nanti jualannya nggak pakai tempe," ujarnya.
(alg/hen)











































