"Kita tetap ingin Bulog yang tangani kedelai lagi. Kalau importir harganya gampang dipermainkan," ungkap salah satu perajin tahu dan tempe Mukrom saat ditemui di Gang Tempe Sungai Bambu Jakarta Utara, Rabu (11/9/2013).
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan pun dengan memberikan harga khusus kedelai dinilainya sia-sia. Alasannya kebijakan itu hanya sementara atau hanya mengatasi permasalahan jangka pendek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai bulan Oktober dikasih harga khusus bagi kami sia-sia. Seharusnya pemerintah memberikan kebijakan yang jangka panjang bukan sampai bulan Oktober," imbuhnya.
Hari ini, para perajin tahu dan tempe mulai kembali melakukan produksi. Khusus untuk perajin tempe, mogok produksi sudah dilakukan sejak hari Jumat tanggal 6 September 2013. Mulai produksi sejak Senin karena memproduksi tempe membutuhkan proses 3 hari.
Sedangkan untuk perajin tahu mogok produksi sudah dilakukan sejak hari Minggu tanggal 8 September dan mulai memproduksi kembali mulai hari ini. "Proses pembuatan tempe jauh lebih panjang bila dibandingkan tahu," katanya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan pemerintah menegaskan akan memberikan kewenangan yang lebih luas kepada Perum Bulog.
"Kita memutuskan banyak hal penting, soal policy kedelai, memberi porsi lebih besar pada Bulog," kata Hidayat usai ratas di kantor presiden semalam.
(wij/hen)











































