Hal tersebut diragukan pengamat transportasi. Pada akhirnya, masyarakat ibukotalah yang akan banyak menikmati mobil murah.
Pengamat Transportasi dari Universitas Gajah Mada Djoko Setijowarno mengatakan, rakyat Indonesia yang hidup di daerah timur tidak akan tertarik dengan adanya kebijakan ini. Pasalnya, infrastruktur jalan di sana pun masih kurang memadai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, distribusi mobil murah tersebut tetap akan berpusat di Pulau Jawa. Menurut Djoko, perputaran uang di Indonesia, 60% terjadi di Jakarta, dan 30% pasaran mobil di Indonesia saat ini berputar di Jabodetabek.
"Akhirnya tetap saja orang Jakarta. Jadi ini istilahnya mengganjal program Pak Jokowi," katanya.
Namun Djoko mengatakan, ada sisi positif dari diluncurkannya mobil murah, itu membuat program Jokowi menerapkan ERP dan menaikkan tarif parkir bisa dipercepat. Tak hanya itu, pertimbangan lain adalah kalahnya industri otomotif di Indonesia oleh negara-negara lain seperti Thailand dan Malaysia.
"Thailand produksi 2 juta mobil dengan penduduk 70 juta penduduk mereka ekspor 1 juta. Indonesia produksi 1,1 juta, penduduk 250 juta, dan diekspor 300 ribu," katanya.
(zlf/ang)











































