"Tidak ada satu biji pun produk lokal yang saya melihat dengan mata kepala sendiri," ungkap Gita di lokasi, Jumat (21/9/2013).
Menurut Gita, dengan tidak ditemukan kedelai lokal, itu berarti produksi kedelai lokal masih minim. Sehingga untuk memenuhi pasokan kedelai untuk para perajin, importasi kedelai harus dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian saat bertemu dan melakukan dialog di depan 20 perajin tahu-tempe, Gita memberikan penjelasan penyebab gejolak harga kedelai. Menurut Gita ada dua penyebab utama yang menyebabkan harga kedelai melonjak.
"Akhir-akhir ini ada gejolak harga tahu dan tempe. Harga impor ini tidak murah karena dua hal, yaitu gejolak nilai rupiah karena dolar menguat dan itu seluruh dunia juga mengalami pelemahan. Kedua terjadi kekacauan cuaca di tempat produsen kedelai terutama di Amerika Serikat," tuturnya.
Karena faktor itu, harga kedelai di tingkat perajin lokal dipatok dengan harga Rp 8.000-9.000/kg.
"Ada kenaikan harga kedelai dari harga Rp 7.000/kg menjadi Rp 8.000-9.000/kg. Tetapi kita pastikan pasok kedelai ini cukup sampai seterusnya kami jamin ini. Memang yang tidak bisa jamin adalah apakah rupiah terus menguat atau tidak," cetusnya.
(wij/dnl)










































