Nolan menyitir artikel tentang pabrik toilet yang dirilis oleh Wall Street Journal baru-baru ini. Menurutnya, itu adalah kisah yang bagus di tengah situasi perindustrian yang bikin miris. Industri otomotif nyaris mati dengan bangkrutnya kota Detroit dan industri pakaian yang pindah ke Bangladesh.
“Sayangnya, perusahaan-perusahaan toilet kami sudah dimiliki orang asing,” kata Nonan. “Tapi boleh-boleh saja orang asing mengambil banyak dari kita, setidaknya mereka tidak mengambil pup kita.” Dia bangga, orang Amerika tetap bisa pup di toilet Made in USA.
Industri toilet di Amerika menjadi contoh mikro tentang apa yang sedang terjadi di dunia perindustrian Amerika pasca hengkang besar-besaran ke luar negeri selama dua dekade terakhir. Meski kebanyakan sudah jadi milik pengusaha asing, perusahaan toilet berpendapat, berproduksi di Amerika itu menjanjikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dan tentu saja bisa mencantumkan label “Made in U.S.A”, yang lebih menarik bagi konsumen,” kata Jim Morando, Presiden Mansfield.
Langkah ini kemudian diikuti oleh perusahaan toilet lainnya. Toto, meski berasal dari Japan, telah mengurangi pengapalan lintas Pasifik dan lebih memusatkan manufakturnya di Amerika Serikat dan Meksiko untuk penjualan di Amerika Utara. Toto sedang menginstal mesin pengecoran yang baru, untuk meningkatkan kapasitas pabriknya di Morrow, Georgia, sampai 5 persen.
Adapun American Standard Brands, yang telah dibeli tahun ini oleh Lixil Corp dari Japan, tengah menginstal alat pembakaran porselen baru dan memperbarui suku cadang lainnya di pabriknya di Nevada, Missouri untuk mendongkrak kapasitas setinggi 5-10 persen.
Sebelumnya, sebuah studi dari The Boston Consulting Group mendapati banyak eksekutif perusahaan manufaktur ingin pabriknya 'pulang kampung' ke Amerika. Sebelumnya, mereka banyak bercokol di China atau Asia Selatan karena upah buruh yang relatif murah.
Situasi kini berubah. Upah buruh di China dan Asia Selatan tak bisa lagi dibilang murah. Maka The Boston Consulting mendapati bahwa 54 persen eksekutif perusahaan manufaktur Amerika berencana mengembalikan operasinya ke Amerika.
Persentase itu meningkat dibandingkan 37 persen pada Februari 2012. Survei yang digelar pada Agustus lalu itu melibatkan lebih dari 200 pengambil keputusan dari berbagai macam industri. Mereka mempunyai pabrik di Amerika Serikat dan di luar negeri. Demikian juga penjualannya.
Peningkatan ini rupanya dipicu oleh temuan Boston Consulting sebelumnya yang mendapati ada perubahan dalam perekonomian manufaktur global dan makin besar keinginan untuk memproduksi sejumlah produk di Amerika. Pada laporan yang dirilis pada Agustus lalu itu, Boston Consulting mendapati bahwa manufaktur di Amerika Serikat makin kompetitif dan diproyeksikan akan menciptakan 2,5 – 5 juta lapangan kerja pada 2020.
“Selama bebera[a tahun ini, kami telah memproyeksikan peningkatan persaingan manufaktur Amerika pada 2015, yang mendorong kebangkitan manufaktur Amerika,” kata Harold L. Sirkin, senior partner di Boston Consulting.
Perubahan itu dipicu oleh sejumlah faktor, yaitu upah buruh (43 persen), kedekatan dengan konsumen (35 persen), dan kualitas produk (34 persen). Sebanyak 80 persen responden menyatakan bahwa setidaknya satu dari tiga faktor tadi adalah kunci utama mereka dalam mengambil keputusan.
Faktor lain adalah buruh yang lebih terlatih, ongkos transportasi, waktu rantai-suplai, dan kemudahan melakukan bisnis. “Kalau Anda perhatikan total ongkos produksi untuk kebanyakan produk, Amerika memang makin atraktif,” kata Michael Zinser, rekanan Boston Consulting.
(DES/DES)











































