Sulitnya UKM Dapat Kredit Bank Jadi Isu Hangat di APEC 2013

Sulitnya UKM Dapat Kredit Bank Jadi Isu Hangat di APEC 2013

Zulfi Suhendra - detikFinance
Sabtu, 05 Okt 2013 15:04 WIB
Sulitnya UKM Dapat Kredit Bank Jadi Isu Hangat di APEC 2013
Jimbaran - Masalah klasik akses permodalan bagi UKM diangkat dalam sebuah Forum di KTT APEC 2013. Sejumlah tokoh nasional dan internasional menyoroti soal akses kredit modal bagi UKM ini.

Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan salah satu yang mengatakan, persoalan akses perbankan menjadi kendala umum yang dihadapi oleh sektor UKM. Tak hanya di Indonesia, di kebanyakan negara pun masalah ini kerap diahdapi sektor UKM.

"Kelemahan terbesar adalah bagaimana mengakses perbankan, mengakses finansial di UKM," kata Syarief dalam sambutannya di acara APEC SMEE Summit 2013 di Jimbaran, Bali, Sabtu (5/10/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain pemerintah, pengusaha pun mengeluhkan hal ini. Pengusaha pemilik Saratoga Sandiaga Uno mengatakan, dengan adanya APEC ini diharapkan ada suatu solusi untuk memudahkan para pengusaha pemula ataupun UKM dalam mendapatkan modal.

"Akses dari pendanaan harus dilakukan bagaimana kita melakukan revitalisasi seperti micro finance, modal ventura," katanya.

CEO Bosowa Erwin Aksa pun mengatakan hal senada. Dia mengatakan, para pengusaha akan merekomendasikan bahasan khusus untuk pertemuan antar pemimpin negara dalam Leaders Meeting APEC tanggal 7-8 Oktober nanti.

"Kita akan merekomendasikan kemudahan akses ke lembaga keuangan, regulasi permodalan dan jaminan sepeerti KUR. Ada diversifkasi selain perbankan. Seperti angel financing.jadi 21 negara bisa mendorong venture capital," katanya.

Pada kesempatan ini, Sandiaga berharap, gelaran APEC bisa jadi kesempatan bagi UKM dan pengusaha muda Indonesia memperluas jaringannya.

Menurut pria yang akrab disapa Sandi ini, gelaran APEC diharapkan menjadi sebuah jembatan bagi pengusaha-pengusaha khususnya di Asia Pasifik untuk dapat membuat jaringan bisnis. Juga untuk bertukar pengalaman dan ilmu antar pengusaha se-Asia Pasifik.

"Lalu networking, karena kegiatan seperti ini bisa membangun jaringan yang luar biasa. Ada 21 negara yang sebentar lagi menyatukan pasarnya," lanjut Sandi.

"Jangan berhenti di sini. Percakapan ini harus jalan terus untuk membentuk UKM (pengusaha) yang tangguh," katanya.

(zlf/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads