Penentuan proses pengambilalihan Inalum dan pengelolanya nanti akan ditentukan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Akan ditentukan apakah Inalum akan dikelola menjadi BUMN atau langsung dikendalikan Kementerian Keuangan.
"Inalum hari ini ada rapat di Menko. BUMN ikut keputusan itu, di bawah BUMN atau di bawah kemenkeu. Saya rasa hari ini diputuskan," ucap Menteri BUMN Dahlan Iskan usai rapim BUMN di Kantor Pusat Bank Mandiri Jakarta, Kamis (17/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau manajemen kan sudah ada. Sekarang kan belum ada keputusan. Padahal 2 minggu lagi diambil-alih. Minus Jepang nggak apa-apa. Manajemen kan nggak hany dirut tapi ada direksi," sebutnya.
Selain membahas manajemen, pemerintah Indonesia juga memikirkan pangsa pasar dan pasokan bahan baku dari produsen penghasil alumunium ini.
Hal ini diperlukan pasca pengalihan kepemilikan pada 31 Oktober nanti. Sebab pasokan bahan baku harus diimpor dari Australia dan 60% produksi
PT Inalum dijual ke Jepang.
"Yang penting manajemen misalnya begitu tanggal 31 Oktober masuk ke pengelolaan ke Indonesia dan pemiliknya Indonesia. Itu harus ada betul-betul yang bertanggungjawab, jangan diserahkan ke Indonesia terus alami kesulitan bahan baku," sebutnya.
Pada kesempatan itu, Dahlan mengakui Inalum memiliki pembangkit listrik mandiri sebesar 600 megawatt (MW). Hal ini berdampak positif terahadap kelancaran proses produksi peleburan bijih alumunium.
(hen/dnl)











































