"Capex tahun depan kita siapkan Rp 4-5 triliun untuk pembangunan pabrik integrated semen di Citeureup, dananya semuanya internal, sekarang lagi dibangun, harapannya bisa produksi 4,4 juta ton per tahun," kata Direktur Indocement Tju Lie Sukanto saat acara Investor Summit and Capital Market Expo 2013 di Hotel Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Kamis (28/11/2013).
Dia menjelaskan, menghadapi kondisi pasar saat ini dengan pelemahan rupiah, diproyeksikan pertumbuhan semen tahun depan tidak akan setinggi tahun-tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi rupiah tentu akan berefek terhadap pabrik semen. Agar margin tidak tergerus lebih banyak maka mau nggak mau dilakukan penyesuaian. Tapi tergantung permintaan dan penjualan," ujar dia.
Namun, kata dia, kondisi keuangan perusahaan yang tidak memiliki utang dalam bentuk dolar, membantu perusahaan dalam menekan adanya pelemahan rupiah.
"Tantangan pabrik semen karena dominasi biaya asing cukup besar, untungnya kita tidak punya utang sama sekali dalam bentuk asing," ujarnya.
Per September 2013, volume penjualan domestik perseroan turun 0,2% menjadi 12,92 juta ton dari periode yang sama tahun sebelumnya uang mencapai 12,94 juta ton.
Pertumbuhan ini lebihlambat dari permintaan semen domestik nasional yang naik 5,4% sehingga pangsa pasar turun menjadi 30,5% di kuartal 3 2013 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 32,3%.
Volume penjualan ekspor lebih tinggi sebesar 134,9% menjadi 183 ribu ton dikuartal 3 2013 dari 78 ribu ton diperiode yang sama tahun sebelumnya.
Total volume penjualan perseroan pada triwulan III-2013 hanya naik 0,6% menjadi 13,1 juta ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 13,02 juta ton.
(drk/ang)











































