Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadil Hasan, hujan yang mengguyur belakangan ini juga telah mengakhiri masa kering di Brasil dan Paraguay. Hal ini sangat menguntungkan kedua negara itu sehingga panen kedelai tercatat meningkat sesuai harapan.
"Menurut laporan FAO, stock rapeseed di Kanada juga melimpah karena ekspor yang melambat diikuti oleh stok biji bunga matahari di region Laut Hitam yang juga tercatat melimpah. Fakta melimpahnya stok menimbulkan sentimen negatif yang menyebabkan harga minyak nabati dunia melemah dan tertekan," katanya dalam siaran pers, Sabtu (22/2/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Turunnya ekspor CPO dan produk turunannya asal Indonesia disebabkan berkurangnya permintaan dari negara tujuan utama ekspor kecuali Amerika Serikat. Ekspor ke India tercatat turun tajam hingga mencapai 54% dari 568.3 ribu ton Desember 2013 menjadi 261.4 ribu ton dan penurunan ini terjadi pada produk turunan CPO.
Turunnya ekspor ke India karena pemerintah India telah menerapkan kenaikan pajak impor refined oil dari 7,5% menjadi 10%. Hal ini dilakukan untuk melindungi industri refinery di dalam negeri yang saat ini terpakai di bawah 40% dari total kapasitas terpasang yang ada.
Penurunan ekspor cukup signifikan juga terjadi ke negara Pakistan. Penurunan tercatat sekitar 41,6% dari 116,2 ribu ton Desember 2013 menjadi 67,9 ribu ton di Januari 2013. Penurunan juga diikuti negara Uni Eropa sebesar 17% dan China sebesar 2%.
Penurunan ekspor juga dipengaruhi telah diberlakukan anti dumping duties oleh Uni Eropa terhadap biodiesel asal Indonesia and Argentina. Khusus untuk Indonesia sendiri, mandatori BBN telah memberikan peluang yang baik bagi industri biodiesel Indonesia yang berbasis CPO untuk mengalihkan pasar biodiesel ke pasar domestik.
"Saat beberapa negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia mengurangi permintaannya, Amerika Serikat justru mencatat peningkatan permintaan akan CPO dan turunannya sebesar 6,7 ribu ton (22,5%) dari 29,9 ribu ton pada Desember 2013 menjadi 36,6 ribu ton di Januari 2014," katanya.
Dari sisi harga, harga rata-rata CPO pada Januari 2014 tertekan dan mengalami penurunan sekitar 5% dari US$ 909,6 per metrik ton Desember lalu menjadi US$ 865 per metrik ton. Harga CPO tidak terjerembab tajam dikarenakan adanya program mandatori bahan bakar nabati (B-10) pemerintah yang telah efektif berlaku sejak September tahun lalu sehingga penyerapan CPO sebagai bahan pencampur diesel meningkat.
Pada Februari ini harga diharapkan akan membaik seiring dengan stock CPO Malaysia dan Indonesia yang akan mulai berkurang. Harga hingga pertengahan Februari tercatat bergerak dikisaran US$ 860-925 per metrik ton.
Bea Keluar CPO pada Februari ditetapkan pemerintah sebesar 10,5% dengan harga referensi rata-rata CPO US$ 880,42 dan Harga Patokan Ekspor US$ 809 per metrik ton.
(ang/wij)











































