Sisa limbah itu ternyata mengandung unsur logam rare earth yang bernilai ekonomi tinggi tetapi tidak diolah. Padahal logam tanah jarang sangat dibutuhkan oleh negara-negara maju untuk komponen industri elektronik seperti bahan baku iPad.
"Ini lebih mahal dari emas. Ini diperlukan untuk komponen seperti iPad, LCD. Selama ini impor," kata Dahlan usai rapim Kementerian BUMN di Kantor Pusat AP II, Cengkareng, Kamis (6/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun ini bangun rare earth bersejarah di Indonesia. Pertama mahal, kedua diperlukan dunia modern, ketiga kita masuk peta dunia karena produksi rare earth. Karena 80% produksi rare earth itu Tiongkok," jelasnya.
Timah dalam waktu dekat akan mulai menguji teknologi pengolahan logam tanah jarang. Untuk rencana awal ini, perseroan menggelontorkan investasi Rp 20 miliar.
"Kerjasama Batan, dia punya teknologi pengolahan rare erath. Kedua bisa gunakan teknologi di pasar," sebutnya.
Dari beberapa jenis rare earth, Timah hanya memproduksi 4 komponen penting yang dianggap bernilai ekonomi tinggi. "Kita akan produksi 4 jenis yakni Lantanum (La), Serium (Ce), praseosinium (Pr), neodiniuon (Nd) Ini yang paling mahal dan dibutuhkan," terangnya.
(feb/dru)










































