Namun, retakan tersebut menurut Boeing, tidak ditemukan pada pesawat Dreamliner yang telah digunakan sejumlah maskapai penerbangan. Boeing mengatakan, penemuan retakan ini tidak akan mengubah rencana pengiriman 110 unit pesawat 787 Dreamliner tahun ini. Tapi, penemuan retakan ini akan membuat pengiriman Dreamliner ke pembeli mundur beberapa minggu dari jadwal yang ditetapkan.
Temuan ini memunculkan beragam pertanyaan soal besarnya biaya perbaikan produksi, dan kemungkinan adanya kerusakan lain di pesawat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Boeing akan segera memberikan informasi kepada para pembelinya soal potensi mundurnya pengiriman pesawat. Produsen pesawat ini juga menyatakan, temuan ini tidak ada pada pesawat Dreamliner yang telah dikirimkan ke pembeli.
"Kami percaya diri, kondisi ini tidak ditemukan pada pesawat yang telah terbang," ujar Juru Bicara Boeing Doug Alder.
Regulator penerbangan AS yaitu Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan khawatir dengan situasi ini.
"FAA akan bekerja dengan Boeing untuk memastikan masalah ini diperbaiki sebelum pesawat-pesawat tersebut dikirimkan," demikian pernyataan FAA.
Karena peristiwa, kemarin saham Boeing turun tipis 0,4%.
Temuan ini merupakan masalah terakhir yang dialami oleh Dreamliner, setelah sebelumnya pesawat ini mengalami sejumlah masalah.
Tahun lalu, baterai litium di 2 pesawat ini terbakar, dan membuat semua Dreamliner di seluruh dunia dilarang terbang selama 3 bulan.
Boeing memang menargetkan pengiriman 10 unit pesawat Dreamliner untuk mencapai pendapatan di kisaran US$ 87,5 miliar-US$ 90,5 miliar, atau sekitar Rp 875 triliun-Rp 905 triliun. Hingga saat ini, sudah ada 9 Dreamliner yang dikirim.
(dnl/dnl)











































