Eropa Ketergantungan Sawit RI, Ini Datanya

Sawit RI Vs Kampanye Hitam Eropa

Eropa Ketergantungan Sawit RI, Ini Datanya

Wiji Nurhayat - detikFinance
Rabu, 26 Mar 2014 11:08 WIB
Eropa Ketergantungan Sawit RI, Ini Datanya
Jakarta - Beberapa negara Uni Eropa (UE) masih melancarkan serangan kampanye hitam sawit asal Indonesia. Serangan sawit Indonesia dilakukan berbagai macam mulai dari isu lingkungan hingga kesehatan.

Pemerintah Indonesia bereaksi dengan mengancam akan mengurangi atau bahkan menghentikan ekspor CPO ke Eropa. Sebagai gantinya penyerapan penggunaan CPO di dalam negeri diperbesar. Alhasil Eropa diprediksi akan kesulitan mendapatkan bahan baku serupa pengganti CPO.

"Kami tegaskan rencana kebijakan biofuel di Indonesia yang akan memprioritaskan konsumsi minyak sawit sebagai biofuel di dalam negeri, apabila minyak sawit terus mendapatkan tantangan masuk ke pasar UE," ungkap Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi usai kunjungan ke Parlemen Eropa mengenai minyak sawit berkelanjutan (sustainable palm oil) pada 17-18 Maret 2014 di Brussel, Belgia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Bayu memastikan, UE bakal kesulitan mendapatkan produk pengganti sawit.

"Kita masih dikenakan kampanye negatif di negara Eropa. Masyarakat Eropa sudah paham betul mereka tidak mungkin tidak mengkonsumsi sawit baik secara teknis maupun non teknis. Eropa akan terjadi inflasi tinggi bila tidak menggunakan sawit. Produktifitas sawit 9 kali lebih banyak bila dibandingkan kedelai," tutur Bayu dalam keterangannya seperti dikutip detikFinance, Rabu (26/3/2014).

Bayu menjelaskan, ekspor CPO Indonesia ke Eropa cukup besar. Bahkan Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,5 juta ton, sedangkan kebutuhan CPO Eropa mencapai 6,3 juta ton.

"Indonesia jadi pemasok terbesar ke Eropa," imbuhnya.

Oleh sebab itu ia meminta Uni Eropa bisa menghilangkan kampanye hitam atas sawit Indonesia. Alasannya Indonesia adalah negara terbesar penghasil sawit bersertifikat ramah lingkungan dan berkelanjutan di dunia.

"Hasilnya kita sudah bisa meyakinkan sawit kita itu suistanable. Dari 8,2 juta ton sawit yang bersertifikat berkelanjutan di dunia, 4,8 juta ton di antaranya diproduksi di Indonesia. Jadi Indonesia adalah produsen sawit bersertifikat berkelanjutan terbesar di dunia," jelasnya.

Untuk menanggapi perlakuan diskriminatif terhadap minyak sawit, Bayu mengusulkan agar dikembangkan tidak hanya sustainable palm oil, tetapi juga sustainable vegetable oil, bagi semua jenis minyak nabati termasuk rapeseed, minyak kedelai, minyak zaitun, minyak biji matahari, dan minyak nabati lainnya.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads