"Pemerintah harusnya sadar ini bukan isu lingkungan. Ada kepentingan besar dari negara-negara produsen minyak nabati yang kalah kompetitif," kata Sekjen GAPKI Joko Supriyono saat ditemui di sela workshop jurnalis 'Perkebunan Sawit: Mengelola Bisnis dan Dampak Lingkungan', di Hotel Mercure, Kuta, Jumat (28/3/2013).
Ancaman terhadap kelestarian lingkungan merupakan salah satu isu yang diusung dalam kampanye hitam untuk menyerang sawit Indonesia. Sebelumnya pada tahun 1980-an, minyak sawit juga diserang dengan isu kesehatan, yang mengatakan bahwa kandungan lemak jahat dalam minyak sawit cukup tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Joko menambahkan, total produksi minyak sawit Indonesia pada 2013 mencapai 26 juta ton. Dari angka tersebut, 19 juta ton di antaranya untuk keperluan ekspor dengan nilai lebih dari US$ 19 miliar.
Sementara itu, Ketua Dewan Pakar PERSAKI (Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia) Petrus Gunarso menyinggung soal lemahnya penataan industri sawit. Dengan wilayah begitu besar, seharusnya Indonesia punya peta kajian tentang kesesuaian lahan agar tidak di semua tempat ditanami sawit. Di kawasan tertentu, komoditi lain seperti cokelat juga potensial dikembangkan.
"Bahaya mono culture adalah, kalau ada pest and disease maka hama akan mendapat makanan yang berlimpah. Ingat zaman dahulu seluruh Jawa disuruh menanam Lamtoro Gung. Begitu ada kutu loncat, mati semuanya. Ancaman ini berlaku juga kalau semua tanam sawit," kata Petrus.
(up/dnl)











































