Omzet BlackBerry tercatat US$ 976 juta, jauh lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 2,7 miliar. Penjualan smartphone pun berkurang dari sebelumnya 1,9 juta menjadi hanya 1,3 juta.
"Kami puas dengan kinerja perusahaan di triwulan keempat ini karena berhasil menerapkan strategi yang sudah kami siapkan tiga bulan sebelumnya," kata CEO BlackBerry John Chen, yang baru memimpin perusahaan November lalu, seperti dikutip AFP, Sabtu (29/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vendor yang bermarkas di Kanada itu memprediksi bisa kembali meraih untung di awal 2015. Pada triwulan IV ini BlackBerry mengirim 3,4 juta ponsel pintar ke seluruh dunia, tapi 2,3 juta di antaranya masih model lama yang memakai sistem operasi BlackBerry 7.
Meski perusahaan masih merugi, saham BlackBerry bisa melompat 5,5% ke posisi US$ 9,55 per lembar di awal perdagangan. Investor melihat kinerja ini menjadi titik balik BlackBerry ke arah positif.
Namun sayangnya setelah penutupan perdagangan, saham BlackBerry malah jatuh 7,07% ke level US$ 8,41 per lembar.
Desember lalu, BlackBerry sudah bermitra dengan perusahaan asal Taiwan, Foxconn, untuk merancang kembali struktur organisasinya. Produksi ponsel akan dipegang Foxconn, sehingga BlackBerry akan fokus mengembangkan perangkat lunak dan jasa.
Dalam rangka restrukturisasi itu, BlackBerry juga berniat memangkas 4.500 karyawan, setara 40% dari total karyawan yang ada saat ini.
BlackBerry pernah membuka diri untuk dijual kepada investor strategis. Namun rencana ini gagal setelah mendapat pinjaman sekitar US$ 1 miliar untuk pengembangan perusahaan.
(ang/ang)











































