"Tahun ini kami bikin 2 film pendek. Yang satu kerjasama dengan BUMN PT TWC (PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko), kita kita angkat feature film. Itu syuting tahun ini, kemudian kita juga kerjasama lembaga angkat profil daerah Sumba," kata Direktur Utama PFN Shelvy Arifin kepada detikFinance, Senin (31/3/2014).
Shelvy menjelaskan selama belasan tahun, pasca krisis tahun 1998, produksi film oleh PFN terhenti. Akibatnya banyak peralatan dan gedung milik PFN di kantor pusat di Jakarta Timur yang tidak terawat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama 2013, memang berat. 2013 akhir sampai sekarang jauh lebih baik. Saya punya tim baru ada 4 orang. Kita perbaiki sistem, kita perbaiki tingkatkan penjualan, kerjasama, pemanfaatan studio. Ada juga optimalisasi aset. Sekarang (PFN) sudah dikenal orang," sebutnya.
Pasca penataan secara bertahap, PFN mulai memperoleh pemasukan rutin di bidang perfilman, salah satunya kerjasama dengan PT KAI (Persero). "Keuangan sudah cukup membaik, ada pemasukan yang cukup rutin. Kerjasama dengan KAI. Itu pertama. Kita bikin video info grafis," sebutnya.
Terkait permintaan Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk memproduksi film sekelas discovery channel, diakui Shelvy pihaknya masih terbentur pendanaan. Namun PFN tetap memasukkan rencana tersebut sambil menunggu pendanaan yang kuat. "Discovery belum karena terbentur funding," jelasnya.
Untuk memperkuat kinerja keuangan, PFN akan serius menggarap kerjasama atau sinergi antar BUMN dan berbagai institusi. Selain itu, PFN memiliki rencana untuk memperbaharui berbagai koleksi film. Termasuk menajajaki kelanjutan film anak-anak, Si Unyil.
"Si Unyil masih on progress. Kita masih dalam proses negosiasi dengan Pak Raden (pencipta Si Unyil)," sebutnya.
PFN juga secara aktif menggandeng insan perfilman dan dunia kampus untuk mendorong tumbuhnya industri perfilman nasional. PFN ingin menjadi salah satu wadah untuk mengembangkan industri film nasional.
"Kita ingin jadi kendaraan bagi industri kreatif. Ini PFN jadi kendaraan untuk jadi Indonesia Kreatif," tegasnya.
PFN merupakan BUMN perfilman, PFN adalah perusahaan peninggalan Belanda. Sejak berdiri dari tahun 1936, PFN telah memiliki dan memproduksi 46.000 koleksi karya audio visual, film dokumenter hingga film layar lebar telah diproduksi. Film yang paling terkenal seperti film anak Si Unyil dan film dokumenter G 30S PKI.
(feb/hen)











































