Padahal Indonesia memiliki pabrik pesawat yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat yakni PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Apa respon PTDI atas kondisi tersebut?
Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisyahbana menjelaskan melihat potensi dan permintaan yang besar terhadap produk pesawat di Indonesia. PTDI saat ini tengah mengembangkan 2 varian pesawat sipil yang cocok untuk wilayah udara Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu pesawat yang kita kembangkan untuk sesuai penerbangan sipil. Itu kita kembangkan yang paling penting di 219 adalah kita membawa industri lokal untuk berbagung di 219," kata Andi kepada detikFinance di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (2/4/2014).
Nantinya pesawat N219 dirancang memakai komponen lokal hingga 60%. Direncanakan pesawat N219 bisa ditawarkan dan diproduksi paling cepat mulai tahun 2016.
"Kita enter market antara 2016 atau 2017," sebutnya.
Andi menjelaskan saat ini beberapa maskapai tanah air telah menyatakan minat untuk membeli N219. Hal ini membuat PTDI optimis bahwa N219 akan terserap dan laku di pasaran.
"Kelebihan dari proyek sipil banyak. Karena order-nya banyak sampai 150 beda dengan pesawat militer," jelasnya.
Selain mengembangkan pesawat baling-baling berkapasitas 19 penumpang. PTDI bersama perusahaan milik mantan Presiden Indonesia yakni BJ Habibie, PT Regio Aviasi Industri (RAI) sedang mengembangkan pesawat baling-baling mesin turboprop berkapasitas 80 penumpang.
Pesawat tersebut diberi nama R80. Pengembangan pesawat R80 dilakukan untuk menyaingi pesawat ATR yang banyak dipakai oleh maskapai RI.
"ATR itu 70 seater. Itu memang dicanangkan N 250. Memang sangat disayangkan dia nggak bisa disertifikasi. Kita sekarang rancang untuk masuk ke 80 seater yang kerjasama dengan pak Habibie. Itu R80," katanya.
Meski belum berwujud purwarupa atau protototype, di dalam desain awal (conceptual design), R80 diracang lebih canggih dan berkapasitas lebih banyak daripada pesawat ATR.
"Saya rasa itu lebih baik karena R80 kita rancang bisa mendarat di lokasi dengan ATR bisa mendarat juga yakni dengan landasan 1.600 meter tapi membawa penumpang lebih banyak yakni 80 orang. Itu bisa lebih cepat, lebih lega dan lebih modern," katanya.
Pengembangan R80 akan dimulai pada tahun 2015. Proses pengembangan hingga lulus sertifikasi membutuhkan waktu 5 tahun. Diproyeksi, R80 akan diproduksi dan dipakai konsumen mulai tahun 2020.
"Kita sudah lakukan rancang bangun. Untuk detail itu belum. Itu akan dilakukan setelah prototype baru tes sertifkasi. Target untuk pengembangan hingga sertifikasi selama 5 tahun untuk pesawat sekelas itu," paparnya.
(feb/ang)










































