Produk Kakao Indonesia Tak Disukai Pasar Eropa

Produk Kakao Indonesia Tak Disukai Pasar Eropa

- detikFinance
Selasa, 15 Apr 2014 13:31 WIB
Produk Kakao Indonesia Tak Disukai Pasar Eropa
Jakarta - Mayoritas masyarakat Uni Eropa tidak menyukai bahan baku cokelat (kakao) asal Indonesia. Penyebabnya cokelat Indonesia tidak difermentasi sehingga rasanya cenderung lebih pahit dibandingkan cokelat Afrika yang sudah difermentasi.

"Uni Eropa suka dengan cokelat berfermentasi karena flavour-nya keluar. Kalau tidak difermentasi cokelat rasanya lebih pahit dan itu bukan tipe orang Eropa tetapi orang Amerika," kata Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang saat berdiskusi terbatas tentang Kakao : Menembus Pasar Kakao Eropa di JIExpo Kemayoran Jakarta, Selasa (15/04/2014).

Sehingga pasar ekspor cokelat Indonesia ke Uni Eropa cukup rendah. Pasar utama ekspor produk kakao Indonesia adalah ke AS, Malaysia, Tiongkok dan Rusia. Sedangkan pasokan cokelat Uni Eropa disuplai oleh negara-negara Afrika seperti Ghana dan Pantai Gading.

"Eropa tidak akan mau orang Eropa karena cita rasa mereka berbeda. Kalau kita lihat produk kakao powder kita banyak ke Amerika, Tiongkok, Eropa hanya sedikit," katanya.

Meskipun masyarakat Uni Eropa tidak terlalu suka dengan cokelat Indonesia, tetapi potensi ekspor ke Uni Eropa masih terbuka lebar. Hal ini disebabkan besarnya kebutuhan cokelat Uni Eropa setiap tahunnya.

Menurut Duta Besar RI untuk Belgia, Arif Havas Oegroseno sebanyak 50% konsumsi cokelat dunia ada di Uni Eropa.

Arif mengatakan setiap tahun Uni Eropa mengimpor biji kakao dengan nilai US$ 4,4 miliar biji kakao dari total ekspor biji kakao dunia mencapai US$ 9 miliar. Indonesia berada di urutan ketiga sebagai eksportir biji Kakao ke Uni Eropa dengan nilai 87,17 juta Euro. Sedangkan negara pertama yang menjadi eksportir biji kakao ke Uni Eropa adalah Pantai Gading disusul oleh Ghana.

"Market di Uni Eropa yaitu 28 negara dengan pendapatan rata-rata US$ 30.000/kapita. 90% kebutuhan makanan orang Uni Eropa diimpor termasuk biji-bijian yaitu kakao," katanya.

Konsumsi cokelat di Uni Eropa sebanyak 11 kg/kapita/tahun, sedangkan Indonesia hanya 50 gram/kapita/tahun sedangkan rata-rata di Asia 1 kg/kapita/tahun.

"Market di Uni Eropa cukup besar disusul market Amerika. Indonesia produksi terbesar kedua di dunia dengan kapasitas produksi biji cokelat sehingga masih ada peluang kita ekspor ke sana," jelasnya.

(wij/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads