Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga mengalami hal yang sama saat baru menjabat pada tahun 2010. Tapi itu berhasil diatasi setelah dalam waktu 1 tahun dengan bekerja sama dengan perusahaan BUMN.
Kala itu, Ia melihat ada peluang lahan seluas 2.200 hektar milik dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Sehingga kemudian Azwar mendatangi Menteri BUMN Dahlan Iskan di kantornya. Dahlan, menurutnya saat itu sangat tertarik dan langsung menyetujui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemkab pun tidak perlu membeli lahan tersebut. Dalam kerjasama yang dibangun, pemkab dengan perusahaan BUMN berbagi keuntungan dari investasi yang dihasilkan setiap tahunnya.
"Maka 2.200 ha bisa dijadikan lahan industri. Kan mereka juga butuh profit. Kita kerjasama saja, Pemda buat regulasi kawasan," sebutnya.
Lahan tersebut dijadikan sebagai area Banyuwangi Industrial Estate Wongsorejo. Kemudian dalam operasionalnya digarap keroyokan oleh tiga BUMN, yaitu PTPN XII, Pelindo III, dan PT SIER.
Azwar menilai dalam persoalan lahan, intinya adalah sikap pemerintah yang mau bekerjasama dengan berbagai pihak. Lahan adalah persoalan yang rumit dan tidak mungkin bila diselesaikan dengan egosentris semata.
"Intinya mau duduk , kalau nggak kan rumit," ujarnya
Pada 2013, investasi yang masuk di Banyuwangi mencapai Rp 3,2 triliun, meningkat hingga 175% dibanding tahun 2012 yang sebesar Rp 1,1 triliun. Jika dibandingkan dengan 2010 yang investasinya baru Rp 272 miliar, investasi di Banyuwangi melonjak drastis hampir 1.100%.
Sejumlah investor kakap mulai masuk Banyuwangi, di antaranya Grup Bosowa, PT Semen Indonesia Tbk, industri gula oleh Konsorsium BUMN, grup perhotelan kenamaan, agribisnis, dan industri perikanan besar.
(mkl/ang)











































