"Kami mencoba mengembangkan ekspor ke Australia dan Timur Tengah sebagai upaya diversifikasi pasar. Tapi Jepang masih akan menjadi pasar utama," kata Direktur Mitratani Dua Tujuh, Wasis Pramono dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/5/2014).
Ia mengatakan pihaknya cukup menguasai pasar produk edamame di Jepang. Menurut Wasis, pasar Australia dan negara-negara Timur Tengah cukup potensial karena konsumsi hortikultura di negara-negara tersebut cukup tinggi. Kesadaran untuk mengonsumsi makanan sehat telah mampu meningkatkan permintaan edamame.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, pihaknya juga akan memperkuat pasar dalam negeri karena potensinya cukup menjanjikan. Tahun ini Mitratani menargetkan pendapatan sebesar Rp 130 miliar. Target ekspor dipatok sebesar 6.700 ton produk edamame.
"Hingga kuartal pertama 2014, kinerja sudah on the right track,โ ujarnya.
Wasis mengatakan, pasar di Jepang akan tetap menjadi prioritas karena selama ini produk Mitratani sudah cukup mendominasi pasar edamame di Negara Sakura tersebut. Mitratani memiliki 22 konsumen besar di Jepang.
Di Jepang, pasar edamame Mitratani terdiri atas pembeli ritel dan pembeli pabrikan. Khusus untuk pembeli ritel, produk dikemas lebih kecil, yaitu 2 ons per bungkus.
โBanyak disajikan di restoran dan hotel di Jepang,โ kata Wasis.
Wasis menambahkan, Mitratani juga akan intensif mengembangkan pasar komoditas selain edamame, seperti okra, buncis, dan beragam sayuran lainnya. Mitratani telah memproduksi sekitar 39 produk bumbu dan sayur siap pakai, antara lain bumbu rendang, bumbu sambal goreng, sayur sop, cap cay, dan perkedel.
"Pasar okra sangat besar di Jepang dan kami sudah mulai mengekspor ke Jepang. Okra ini margin keuntungannya lebih baik dari edamame. Untuk buncis, tahun ini kami uji coba dan rencana ekspor awal 70 ton ke Jepang," katanya.
Sedangkan produk bumbu dan sayur siap pakai kami pasarkan ke sejumlah perusahaan pertambangan seperti Freeport yang memang membutuhkan makanan siap saji di lokasi pertambangannya yang jauh dari kota,โ kata Wasis.
Produk turunan edamame juga digarap dengan mengembangkan minuman, tepung, dan pasta, "Sehingga kami tidak hanya jual edamame sebagai produk primer, tapi sudah ada turunannya yang bisa memberi nilai tambah," katanya.
Mitratani juga sedang mengembangkan komoditas talas jepang (satoimo/colocasia esculenta) dan ketela rambat varietas beniazuma untuk diekspor ke Jepang.
Mitratani sendiri adalah anak perusahaan PTPN X dengan kepemilikan saham 65 persen. Adapun sisa saham 35 persen dimiliki PT Kelola Mina Laut (KML), sebuah perusahaan produk pertanian subsektor perikanan yang memiliki jaringan ekspor cukup luas di Asia dan Eropa.
(hen/hds)











































