Di DPR, Lion Air Curhat Sulitnya Bangun Bengkel Pesawat

Di DPR, Lion Air Curhat Sulitnya Bangun Bengkel Pesawat

- detikFinance
Rabu, 11 Jun 2014 18:02 WIB
Di DPR, Lion Air Curhat Sulitnya Bangun Bengkel Pesawat
Jakarta - Industri pesawat dalam negeri saat ini sedang tumbuh tinggi. Pertumbuhan industri ini mencapai 15% setiap tahun. Jumlah pesawat saat ini mencapai 700 unit, namun tidak diikuti oleh ketersediaan bengkel pesawat atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).

Melihat persoalan itu, salah satu maskapai pemerbangan tanah air yaitu Lion Air Group, mendirikan bengkel pesawat di Batam. Namun pembangunan bengkel tidak berjalan mulus, karena terkendala pajak. Hal ini disampaikan langsung petinggi Lion Air di depan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat.

"Kita dapat di Batam. Tapi di sana kena double tax (pajak ganda)," kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait saat Rapat Dengar Pendapat Umum di Gedung DPR, Senayan, Jakarta,Rabu (11/6/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lion memang pernah membidik beberapa lokasi untuk mendirikan bengkel, seperti di Surabaya, Manado, hingga Jakarta. Namun persoalan yang timbul adalah menyangkut perjanjian pemanfaatan lahan.

"Di Surabaya mau bikin tapi lahan nggak bisa. Di sana sudah 5 tahun nggak dibangun. Peralatan sekarang masih ada di sana," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Edward bercerita juga terkait perkembangan pendirian MRO di Batam. "Tahap pertama sudah mau selesai. Target selesai tahun 2016 sampai tahap 3. Di situ kalau sampai tahap 3 secara paralel bisa dirawat 18 pesawat. Sebelumnya nyebar ke mana-mana," sebutnya.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Indonesian National Air Carriers Association (INACA) Arif Wibowo menuturkan, kendala terbesar di dalam bisnis pendirian bengkel pesawat adalah izin dan lahan.

"Masalah lahan dan izin. Di beberapa airport potensi cukup banyak yang terlibat. Beberapa airport terkait pemda, TNI, Kemenhub dan sebagainya. Kedua, capital intensive. Harus siap dana," kata Arif.

(feb/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads