Bagaimana respons PT Pertamina? Direktur Operasi PT Pertamina Lubricants Andria Nusa membenarkan pihaknya belum masuk ke produk pelumas. Ini karena industri aviasi membutuhkan pelumas berstandar tinggi.
"Pelumas aviasi paling tinggi teknologinya dan paling tinggi nilai investasinya. Perhitungan ekonomi harus matang," kata Andria saat acara Pertamina On Train Workshop dalam perjalanan kereta wisata Jakarta-Yogyakarta, seperti dikutip Selasa (17/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, Pertamina mulai melirik bisnis pelumas pesawat. Namun itu adalah rencana jangka panjang.
"Kita masuk ke bisnis ini bukan jangka pendek. Belum ada target waktu. Kita belum bisa katakan, cukup panjang," kata Andria.
Diakui Andria, untuk menghasilkan produk pelumas pesawat yang andal, Pertamina perlu melakukan pengujian menggunakan berulang-ulang serta memperoleh persetujuan dari produsen pesawat dunia seperti Boeing atau Airbus.
"Itu bukan hal mudah. Perlu uji terbang, kita juga harus sewa pesawat. Tetapi itu bisa kita lakukan," tegasnya.
Sebelumnya Ketua Indonesian National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menyebut suku cadang pesawat yang beroperasi di Indonesia seluruhnya harus didatangkan dari luar negeri. Pasalnya industri dalam negeri tidak mampu memenuhi standar permintaan maskapai.
Bahkan sampai pelumas pun harus diimpor. "Kita banyak impor dari Petronas dan British Petroleum," kata Bayu.
Bayu mengungkapkan dirinya pernah bertemu dengan Pertamina. Namun Pertamina enggan untuk berinvestasi untuk membuat oli pesawat berstandar tinggi.
"Itu oli harus high grade. Pihak Pertamina waktu kita tanya, nggak tertarik karena investasi besar tapi volume penggunaan kecil," jelasnya.
Padahal jumlah pesawat komersial berjadwal dan tidak berjadwal yang dimiliki maskapai di Indonesia mencapai 700 unit. Bahkan jumlah tersebut akan terus bertambah ke angka 1.000-1.200 unit pada 2020. Banyaknya jumlah pesawat bisa menjadi potensi bisnis bagi Pertamina.
(feb/hds)











































