"Di bawah 5% dari 3,7 juta (Versi Badan Pusat Statistik)," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di sela-sela pameran Sumatera Barat Food and Craft ke VII, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (17/6/2014).
Euis menjelaskan, sulitnya produk-produk IKM menembus pasar ekspor karena banyak hambatan di negara tujuan ekspor. Salah satunya biaya bongkar muat yang harus ditanggung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari Bandung misalnya ada kue-kue. Biasanya dia ekspor tidak apa-apa, tapi tiba-tiba dia suruh bayar ongkos bongkar kontainer US$ 1.000, uang segitu untuk IKM bisa dipakai bermacam-macam. Saya nggak etis menyebut negaranya mana," papar Euis.
Pemerintah berjanji akan menjembatani dan mencarikan solusi untuk kendala ini. Juga membimbing para IKM agar lebih banyak lagi yang bisa memasarkan produknya ke negara lain.
Selain ekspor, Kementerian Perindustrian juga mendorong pemasaran produk-produk IKM agar bisa masuk ke toko-toko ritel besar di Indonesia.
"Seperti Carrefour, 7-Eleven dan Giant sudah ngobrol sama saya. Yang pasti Carrefour siap memasukkan barang-barang seperti mainan anak ber-SNI, saya minta jangan sampai disusahkan," tutup Euis.
(zul/hen)











































