Impor Kertas Melonjak 230%, Industri Lokal Rugi

Impor Kertas Melonjak 230%, Industri Lokal Rugi

- detikFinance
Minggu, 22 Jun 2014 17:03 WIB
Impor Kertas Melonjak 230%, Industri Lokal Rugi
Foto: Pabrik Kertas/Getty Images
Jakarta - Komisi Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag) menemukan bukti awal telah terjadi lonjakan impor kertas ke dalam negeri. Lonjakan impor telah membuat produsen kertas di dalam negeri meminta penyelidikan soal lonjakan impor hingga 230% yang membuat mereka rugi.

"Lonjakan jumlah impor barang yang dimintakan perlindungan berdampak negatif pada pemohon. Hal tersebut terlihat dalam indikator kinerja pemohon yang mengalami pertumbuhan negatif, yaitu produksi, pangsa pasar domestik, persediaan, kapasitas terpakai, laba, dan tenaga kerja," kata Ketua KPPI Ernawati dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (22/6/2014)

KPPI telah memulai penyelidikan terhadap lonjakan impor mulai 20 Juni 2014. Setelah sebelumnya pada 26 Mei menerima pengaduan atau permohonan penyelidikan lonjakan impor kertas dari PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Produk kertas impor yang membanjiri pasar dalam negeri yaitu kertas jenis kertas dan kertas karton, yang dilapisi satu atau dua sisinya dengan kaolin atau zat anorganik lainnya, dengan atau tanpa bahan pengikat dan tanpa pelapis lainnya, diwarnai,dihias atau dicetak permukaannnya atau tidak, dalam gulungan atau lembaran empat persegi panjang dari berbagai ukuran, dari jenis yang digunakan untuk menulis, mencetak, atau keperluan grafik lainnya, tidak mengandung serat yang diperoleh dari proses mekanik atau kimia mekanik, atau mengandung serat tersebut tidak lebih dari 10% menurut berat keseluruhan kandungan seratnya, tidak termasuk uang kertas.

Masa periode lonjakan impor yang dilaporkan dua industri adalah periode 2010-2013. Mereka meminta penyelidikan karena telah mengalami kerugian serius akibat lonjakan impor.

Berdasarkan data BPS, impor kertas yang disebutkan di atas mencapai 22.166 ton pada 2010, lalu meningkat menjadi 33.456 ton pada 2011, kemudian melonjak menjadi 51.358 ton pada 2012. Terakhir pada 2013 angkanya makin naik tajam mencapai 73.869 ton, atau telah terjadi kenaikan 233% bila dibandingkan 2010.

(hen/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads