"Kita dorong habis ini dan tolong percaya kepada saya. Saya akan perjuangkan agar mereka memperoleh kemudahan," kata Hidayat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (7/7/2014)
Ia berjanji akan memberikan beberapa insentif kepada sang produsen untuk melokalisasi komponen produk smartphone yang mereka buat. Saat ini kandungan lokal smartphone 4G yang diberi nama IVO masih 30%, targetnya akan ditingkatkan 60% tahun depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidayat mengatakan beberapa insentif yang bisa diberikan kepada produsen smartphone IVO antara lain insentif pajak. Pemerintah berani memberikan insentif karena industri ini dianggap pioner dan bisa menekan impor ponsel yang sangat tinggi setiap tahun.
"Tax holiday, PPh. Kalau industri ini nanti kuat, kamu akan memproteksi memberikan privilege kepada kita agar impor jadi berkurang. Sekarang yang diimpor lebih dari 60 juta unit per tahun," katanya.
Dua perusahaan di dalam negeri, yakni PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) dan PT Tata Sarana Mandiri (TSM) memproduksi ponsel ini. PTSN bergerak dari sisi manufaktur dan TSM untuk desain.
Smartphone 4G buatan Indonesia yang didukung oleh Qualcomm Snapdragon 400 chipset, menggunakan prosesor Quad Core 1.2 GHz, RAM 1 GB, media penyimpanan berkapasitas 8 GB, kamera 8 MP, dan dual SIM card yang didesain khusus untuk kebutuhan Indonesia.
Smartphone 4G ini juga dapat bekerja pada berbagai frekuensi LTE lain seperti 1.800 Mhz, 2.300 Mhz, 2.600 Mhz, termasuk frekuensi data 3G dan 2G. Jadi, ponsel ini bisa beroperasi di berbagai negara.
(hen/hds)











































