2 Pabrik Gula BUMN akan Tutup, 10.000 Petani Terancam Kehilangan Pendapatan

2 Pabrik Gula BUMN akan Tutup, 10.000 Petani Terancam Kehilangan Pendapatan

- detikFinance
Senin, 14 Jul 2014 09:26 WIB
2 Pabrik Gula BUMN akan Tutup, 10.000 Petani Terancam Kehilangan Pendapatan
Jakarta - PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) berencana menutup 2 Pabrik Gula (PG) miliknya yang berlokasi di Cirebon Jawa Barat. Penutupan dilakukan karena PG milik RNI terkena dampak negatif serbuan atau rembesan gula rafinasi atau gula kristal putih (GKP) impor.

Pabrik yang akan ditutup adalah PG Sindang Laut dan Karangsuwung. Penutupan akan dilakukan paling lambat pada tahun 2015. Lantas apa dampak penutupan dari 2 pabrik gula tersebut?

Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro menuturkan pihaknya terpaksa menghentikan kerjasama dengan ribuan petani tebu di area Jawa Barat. Selama ini, para petani tebu menjadi pamasok utama untuk produksi gula dari kedua PG tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Itu semua tebu rakyat. Totalnya kalau tutup 2 pabrik ada 10.000 petani. Di dua pabrik ada puluhan ribu petani akan kehilangan pendapatan,” kata Ismed kepada detikFinance di Kantor Pusat RNI, akhir pekan lalu.

Dampak lainnya adalah pasokan gula nasional akan berkurang. Sebab 2 pabrik gula tersebut berkontribusi memberikan pasokan gula ke pasar-pasar tradisional.

“Karangsuwung kapasitasnya 2.600 TCD (Tonnes of Canes per Day/TCD) dan Sindang Laut kapasitasnya 1.450 TCD,” ujarnya.

Sedangkan untuk nasib ribuan pekerja, RNI akan menempatkan para karyawan ke dalam 8 pabrik milik perseroan yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Karangsuwung dan Sindang Laut pegawainya ada 1.800 karyawan. Itu akan kita tempatkan ke pabrik gula milik kita yang masih beroperasi,” jelasnya.

Ismed menegaskan rencana tersebut bisa saja dibatalkan jika pemerintah tegas dan berhasil menghentikan praktik nakal luberan gula rafinasi ke pasar-pasar konsumen. Sebab selama 2 tahun terakhir, pabrik gula BUMN dan petani tebu sangat terpukul karena tak bisa bersaing.

Beban operasional pabrik melonjak sebaliknya justru harga gula jatuh. Bagi RNI, sebanyak 55% pendapatan disumbang dari sektor industri gula.

“Bahkan ada sekitar 800.000 ton lebih gula yang dimiliki petani dan pedagang menumpuk di gudang produksi 2013. Karena pasar dipenuhi gula rafinasi dengan harga jauh lebih murah dibandingkan gula kristal putih basis tebu,” tegasnya.

(feb/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads