Lokasi pabrik baru tersebut di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan di Lamongan, Jawa Timur. Pabrik ini berbasis tebu petani namun bisa menghasilkan gula rafinasi untuk kebutuhan industri. Selama ini pabrik gula rafinasi yang ada masih berbasis bahan baku impor raw sugar.
"Minimal kayak Lamongan kapasitas per tahun 300.000 ton paling nggak itu ada 10 pabrik. Tetapi mungkin ada yang paling besar. Rendemennya jangan rendah, kalau bisa 9-10%," kata Saleh di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Senin (15/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan per tahun industri makanan dan minuman membutuhkan setidaknya 3 juta ton pasokan gula rafinasi. Sayangnya kebutuhan yang besar itu masih harus dipenuhi dengan impor.
"Memang kita belum punya pabrik raw sugar belum ada memang. Kebutuhan industri sekitar hampir 3 juta ton raw sugar. Kita dorong kalau bisa, selama ini perusahaan gula nasional belum bisa memproduksi raw sugar," ungkap Saleh.
Salah satu masalah mendasar gula di dalam negeri adalah terbatasnya lahan. Saleh mengaku kesulitan mencari lahan tanam baru tebu di dalam negeri padahal insentif pemerintah kepada investor gula siap diberikan.
"Insentif oh ya pasti itu. Tetapi untuk mendapatkan lahan pasti tidak gampang," imbuhnya.
(wij/hen)











































