RI Masih Bergantung Gula Impor, Siapa yang Diuntungkan?

RI Masih Bergantung Gula Impor, Siapa yang Diuntungkan?

- detikFinance
Rabu, 17 Des 2014 10:55 WIB
RI Masih Bergantung Gula Impor, Siapa yang Diuntungkan?
Jakarta - Polemik impor raw sugar atau gula mentah untuk industri gula rafinasi terus terulang sepanjang tahun. Produk gula rafinasi impor yang merembes ke pasar umum membuat para petani tebu rakyat terpukul.

Hal ini membuat para petani tebu menduga ada kongkalikong antara pemerintah dan pengusaha terkait kebijakan impor. Namun pemerintah menegaskan tak ada yang diuntungkan terhadap kebijakan impor gula.

"Siapa sih yang diuntungkan itu? Nggak ada," tegas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Panggah Susanto kepada detikFinance, Rabu (17/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panggah menjelaskan β€Žimpor gula selama ini dilakukan karena industri makanan membutuhkan gula rafinasi yang berasal dari raw sugar impor. Kondisi ini memang membuat dilema, bila tak ada impor raw sugar maka industri makanan minuman bakal berhenti beroperasi, sedangkan di sisi lain harga gula petani lokal tertekan karena kalah saing akibat ada rembesan gula impor.

"Industi makanan nggak dapat supply yang pasti. Rafinasi itu ingin ada kepastian usaha, petani juga merugi," tutur Panggah.

Ia menungkapkan selama ini produksi gula dalam negeri tak efisien yang faktornya mulai dari produktivitas lahan tebu yang rendah hingga kondisi pabrik-pabrik gula yang sudah tua dan tak efisien.

Dari kebutuhan gula industri dan rumah tangga mencapai 5,2 juta ton per tahun, produksi lokal hanya 2,5 juta ton per tahun. Kondisi ini memaksa pemerintah harus impor gula setiap tahun untuk menutupi kekurangan.

"Sumbernya inefisiensi. Itu dulu kita selesaikan. Di pabrik gula itu sumbernya, kita konsentrasi di situ dulu, selama nggak diselesaikan mau ngomong apa juga nggak selesai. Caranya gimana, harus investasi. Tanpa investasi itu nggak bisa," jelasnya

Sebelumnya, Wakil Sekjen Dewan Pimpinan Nasional APTRI M. Nur Khabsyin menduga ada kongkalikong antara pengusaha gula rafinasi dan pemerintah yang menyebabkan gula impor membanjiri pasar dan dampaknya gula petani tak laku karena kalah bersaing.

Kongkalikong dalam bentuk pemberiann kuota impor raw sugar yang melebihi dari kebutuhan. Raw sugar diimpor oleh produsen gula rafinasi, kemudian diolah menjadi gula rafinasi, kemundian untuk memasok pabrik makanan dan minuman.

Nur mengatakan seharusnya kebutuhan gula rafinasi hanya 2 juta ton, namun impor bahan baku atau raw sugarnya bisa mencapai 3,2 juta ton pada tahun lalu. Tahun ini kuota impor raw sugar untuk bahan baku gula rafinasi sebesar 3,1-3,2 juta ton.

(zul/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads