Kerugian terbesar terjadi pada 2006 yang mencapai Rp 145,277 miliar. Meski pada 2012 korporasi mencatatkan keuntungan Rp 9 miliar setelah revaluasi.
Direktur Utama Kertas Leces Budi Kusmarwoto mengungkapkan, pihaknya berkomitmen melakukan transformasi bisnis dengan memasuki bisnis kertas bernilai tinggi. Produksi kertas ini secara bertahap akan mengurangi ketergantungan pada produk konvensional yang tidak banyak menghasilkan keuntungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus masuk ke blue ocean, lautan damai yang tidak berdarah-darah. Kita harus memilih produk yang cocok, margin tinggi. Kita memutuskan masuk ke abaca, bahan baku kertas bernilai tinggi," papar Budi saat konferensi pers di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (24/12/2014).
Budi menjelaskan, dengan transformasi bisnis tersebut, pihaknya optimistis akan bisa memperbaiki kinerja perseroan menjadi lebih baik. Pada 2020, perseroan menargetkan bisa meraup pendapatan hingga Rp 1,7 triliun dengan laba sebesar Rp 500 miliar.
"Target 2020 itu revenue Rp 1,7 triliun, laba Rp 500 miliar. Dengan itu, ke depan bukan lagi Leces yang berdarah-darah tapi lebih spesial, jadi lebih bagus lagi," katanya.
Dia menjelaskan, untuk mencapai itu pihaknya memutuskan untuk meningkatkan nilai bisnis Kertas Leces secara bertahap memasuki kertas sekuriti dan kertas berharga berbasis non kayu.
Menurut Budi, Kertas Leces akan memilih produk yang memberikan keuntungan tinggi seperti diversifikasi produk ke pulp rice straw yang berbahan baku jerami. Harganya mencapai US$ 2.000 (Rp 24 juta) per ton. Produk itu sangat menguntungkan dibandingkan kertas dari bahan baku kayu yang nilainya US$ 650 (Rp 1,3 juta) per ton.
Perseroan juga memanfaatkan abaca yang nilai penjualannya mencapai US$ 4.000 (Rp 48 juta) per ton.
"Abaca ini menghasilkan kertas teh, trafo juga, itu kan ada kumparan, untuk kertas uang, filter oli di mobil atau motor, dashboard mobil, untuk bank notes juga," pungkasnya.
(drk/hds)











































