Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan harga gula petani rawan kena dampak apabila pemerintah membuka impor raw sugar (gula mentah) besar-besaran. Meski gula mentah hanya untuk industri, namun faktanya 11% lebih tahun lalu merembes ke pasar umum atau konsumsi rumah tangga.
"Sekarang harga lelang Rp 8.500-8.600 ini sudah lumayan, jangan sampai nanti pas musim giling, ada rembesan gula impor," katanya kepada detikFinance, Jumat (20/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu faktor pemicunya adalah serbuan gula rafinasi impor ke pasar tradisional. Seharusnya gula rafinasi hanya masuk ke pasar industri seperti industri makanan dan minuman.
Soemitro keberatan apabila Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan meloloskan alokasi impor gula mentah sebanyak 1,57 juta ton untuk triwulan II dan III-2015. Menurutnya alokasi impor sebaiknya maksimal 600.000 ton per triwulan.
"Kalau bisa dikurangi alokasinya perhitungan kita kebutuhan raw sugar untuk industri rafinasi 2-2,2 juta ton per tahun, kalau berlebihan bisa bikin rembesan ke pasar," katanya.
Sebelumnya Industri makanan dan minuman (mamin) kembali meminta tambahan impor gula mentah untuk diolah di industri rafinasi. Jumlahnya 1 juta ton untuk kebutuhan gula rafinasi 3 bulan mendatang.
Adhi mengatakan kebutuhan raw sugar impor di kuartal II-2015 jauh lebih besar dibandingkan kuartal I-2015. Hal itu dilakukan sebagai persiapan kebutuhan mamin yang meningkat menjelang Ramadan dan Lebaran 2015.
Direktur Impor Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Thamrin Latuconsina menegaskan bahwa angka impor untuk alokasi triwulan II-2015 belum final. Ia pun membantah telah menerima rekomendasi alokasi impor raw sugar sebanyak 1,57 juta ton dari Kementerian Perindustrian.
"Tidak benar angka itu," kata Thamrin.
(hen/hds)











































