Pemilik Juno by Jaya Rattan, Andrian Wonoto menuturkan, 90% produk hasil kerjainan rotannya memang didapat dari kayu-kayu dan rotan yang ada di nusantara. Namun itu pun tak lengkap jika tidak menggunakan aksesoris-aksesoris, yang mana harus diimpor.
"Kalau kayak kayu, rotan, eceng gondok, itu memang ada di kita," kata Andrian ditemui di showroom-nya, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (14/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekitar 5-10% itu dari bahan. Sayang sekali, itu kelemahan kita di industri pendukungnya belum ada," tuturnya.
Andrian mengatakan hal itu merupakan salah satu kendala yang saat ini dihadapi industri rotan, selain peraturan Sertifikat Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang dinilai memberatkan industri kecil dan menengah.
"Terlalu mahal untuk kami. Dan untuk supplier kayu kami," tuturnya.
Terpisah, Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Euis Saedah tidak membantah salah satu hambatan yang dihadapi industri kecil dan menengah, tak hanya rotan adalah persoalan bahan baku. Yang bisa dibantu pemerintah menurutnya adalah hanya sebatas pelatihan gratis, promosi gratis bantuan potongan harga mesin dan lainnya.
"Langkah pemerintah hampir tidak mungkin untuk pembelian subsidi bahan baku. Kita ingin sekali, tapi belum bisa. Yang selama ini kita berikan, pelatihan gratis, sertifikasi gratis, pameran gratis," katanya.
(zul/ang)










































