Curhat Produsen Soal Mahalnya Ponsel Made In RI Dibanding Barang Impor

Curhat Produsen Soal Mahalnya Ponsel Made In RI Dibanding Barang Impor

Zulfi Suhendra - detikFinance
Kamis, 25 Jun 2015 13:35 WIB
Curhat Produsen Soal Mahalnya Ponsel Made In RI Dibanding Barang Impor
Jakarta - Produsen ponsel di dalam negeri mengakui, ongkos produksi ponsel di Indonesia justru lebih mahal daripada mengimpor ponsel secara langsung. Alasannya, produsen dikenakan pajak saat mengimpor komponen, sedangkan impor ponsel tak dikenakan pajak.

Oppo adalah salah satu pabrikan ponsel smartphone yang sudah membangun pabriknya di Tangerang. Oppo sendiri belum secara massif memproduksi ponsel, karena saat ini, pihaknya masih dalam tahap uji produksi.

Meski begitu, Oppo mengakui ponsel yang diproduksi di Indonesia justru lebih mahal dibanding saat pihaknya mengimpor ponsel secara utuh dari negara luar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu memang benar. Karena impor ponsel itu pajaknya nol persen, kalau impor komponen kenanya per komponen," tutur Media Engagement Oppo‎ Indonesia, Aryo Meidianto, kala berbincang dengan detikFinance, Kamis (25/6/2015).

Pasalnya, belum banyak komponen yang sudah bisa didapatkan dari dalam negeri, oleh karena itu produsen terpaksa harus mengimpor. Oppo sendiri, lanjut Aryo, sudah menerapkan 20% tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang berupa tenaga kerja, kardus, service center, dan lainnya.

Komponen-komponen penting lainnya masih harus diimpor. Itu yang menyebabkan ongkos produksi lebih mahal, karena impor komponen dikenakan bea masuk.

"Kalau komponen per part kena pajak, 1,2,3 itu kan repot. Jatuhnya jadi lebih besar," tuturnya.

Ia belum tahu persis, berapa pajak bea masuk komponen yang dikenakan. Begitu pun kepastian apa ongkos produksi yang lebih mahal tersebut akan dikenakan ke harga penjualan nantinya.

"Saya tidak bisa menjamin itu bisa lebih murah atau lebih mahal. Tapi setidaknya kita berupaya, paling tidak sama harganya (dengan yang impor)," tuturnya.

Aryo mengatakan, pemerintah berencana memberikan insentif berupa penanggungan pajak komponen tersebut. Namun menurutnya, hingga kini belum ada realisasi.

"Kemarin sempat dengar katanya pemerintah mau bantu, sampai sekarang masih belum dapat kabar itu," ‎tambahnya.

Senada dengan Oppo, Polytron pun menggakui hal yang sama. Komponen yang masih diimpor cukup berpengaruh terhadap biaya produksi, apalagi jika dalam keadaan dolar menguat terhadap rupiah‎.

"Kalau semua komponen ada di Indonesia itu akan aman," tutur Santo Kadarusman, Juru Bicara PT Hartono Istana Teknologi, Polytron.

(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads