Pakar Teknik Kimia Universitas Indonesia (UI) Misri Gozan mengatakan, ada banyak faktor di luar pengaruh alam seperti tingkat kelembapan yang tinggi, serta pendeknya musim kemarau yang membuat Indonesia memproduksi garam produksi hanya bulan-bulan tertentu. Kondisi ini membuat produksi garam Indonesia terbatas atau jauh dari kebutuhan.
"Pertama kepemilikan lahan garam terlalu kecil. Rata-rata 0,75/hektar per petambak, sudah begitu lahan sekecil itu diolah bersama. Sulit produksi garam yang baik kualitasnya dan efisien kalau lahan kecil," ujar Misri dalam diskusi Menuju Swasembada Garam, di kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (7/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misri mencontohkan, setiap petambak garam memiliki kolam masing-masing di lahannya, dari proses penampungan hingga pengkristalan garam. Kondisi ini membuat garam kurang berkualitas.
"Di India ada satu kolam bersama untuk menampung air. Baru dari penampungan ini dialirkan ke kolam-kolam milik petambak masing-masing. Kalau di kita memang ada irigasi bersama, tapi bukan kolam," jelasnya.
Ketiga, adalah tidak adanya keterpaduan program antar kementerian yang berkepentingan dalam produksi garam, baik garam konsumsi maupun garam industri.
"Yang ada jadinya ego sektoral. Program masing-masing berbeda. Satunya buat petambak, satunya buat kepentingan industri," papar Misri.
Keempat, adalah masih dikuasainya tata niaga garam oleh segelintir kelompok usaha. Adanya praktik oligopoli (produk dikuasai oleh hanya beberapa kelompok) ini tak bisa dipungkiri membuat disparitas harga garam di pengguna akhir dan petambak garam lokal. Di sisi lain impor garam industri pun juga dikendalikan harga dan pasokannya.
"Adanya praktik oligopoli dalam tata niaga garam. Ini yang perlu dibenahi," tutupnya.
(hen/hen)











































