"Sementara produksi PT Garam kadar NaClnya masih di bawah itu dan kandungan Kalsium serta Magnesiumnya mencapai 2000 ppm," kata Ketua Bidang Pengembangan Teknologi Garam, Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) dalam acara Forum Diskusi Ekonomi Indonesia (FDEI) di Penang Bistro, Jakarta, Kamis (17/12/2015).
Akibatnya, garam industri yang kebutuhannya mencapai 1,6-1,7 juta ton bahkan diprediksi akan terus tumbuh hingga 2 juta ton harus dipenuhi dengan cara impor garam dari Australia dan India.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi meskipun lautnya luas, kalau di darat tidak ada lahan produksi garam bagi petambak, ya sama saja. Kalau pembebasan lahan untuk ekstensifikasi oleh pabrik garam masih sulit, produksi akan stagnan. Iklim setiap pantai pun berbeda, tidak semua bisa memproduksi garam," jelasnya.
Dari sisi petambak, dengan peralatan panen tradisional masih menggunakan garu, menurut Arthur tidak akan efisien.
"Pakai garu jelas tidak efisien. Akan banyak kehilangan hasil dan akan mengandung banyak impuritas atau kotoran. Panen garam pun kurang efisien dan hasilnya tidak homogen. PT Garam pun masih ada yang panen pakai garu," kata Arthur.
Garam merupakan senyawa sederhana yang terdiri dari unsur natrium dan klorida, namun punya peran sangat penting dalam dunia industri.
Garam menjadi bahan baku yang sangat diperlukan berbagai industri diantaranya:
- Industri chlor alkali plant (CAP) sebagai bahan pemutih dan senyawa berbasis chlor (Cl) bahan baku plastik dan biji plastik
- Industri pangan (makanan dan minuman)
- Konsumsi rumah tangga
- Industri penyamakan kulit
- Industri kosmetik
- Industri deterjen
- Pengeboran minyak
- Cairan infus dan pencuci darah











































