Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro Samadikun, mengungkapkan berkurangnya petani tebu karena tingkat rendemen tebu yang sangat rendah. Pabrik Gula (PG) yang saat ini ada, sebagian besar merupakan warisan kolonial Belanda.
"Rendemen di kita hanya rata-rata 7,5%. Memang PG BUMN ada yang sudah 9%, PG di Sumatera Utara malah ada yang hanya 5%, tapi kalau di rata-rata nasional di kisaran 7,5%. Kalau rendemen PG di Thailand, rata-rata 12-13%," ujarnya kepada detikFinance, Senin (23/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya bagi hasil 70% petani, dan 30% PG dari Rp 75 juta, artinya petani mendapat hasil Rp 52,5 juta. Ditambah dari tetes tebu total dia mendapat Rp 57 juta. Sementara biaya perawatan, sewa lahan, dan sebagainya per hektar Rp 54 juta. Petani hanya untung Rp 3 juta/hektar," kata dia.
Sementara dengan rendemen 13%, petani Thailand bisa menikmati manisnya gula yang lebih besar. Dengan produktivitas yang sama yakni 100 ton per hektar, bisa dihasilkan gula sebanyak 13 ton.
"Ini rahasia kenapa Thailand bisa jual gula lebih murah daripada kita. Karena petani tebu Thailand bisa menjual gula Rp 10.000/kg saja sudah untung," ungkapnya.
Sumitro melanjutkan, petani negara tetangga tersebut juga dimanjakan dengan infrastruktur yang memadai, bunga rendah, dan berbagai macam subsidi pemerintah.
"Itu hanya dari sisi rendemen saja. Belum hitung variabel lain seperti infrastruktur. Bunga bank mereka hanya 2,2%, kita 9% saja susah. Produktivitas tebu petani kita juga nggak merata, ada yang malah hanya 50-60 ton per hektar," pungkasnya. (drk/drk)











































