Kolaborasi 'Robot' dan Pekerja Pabrik Pemanas Air Kelas Dunia di Italia

Laporan dari Fabriano

Kolaborasi 'Robot' dan Pekerja Pabrik Pemanas Air Kelas Dunia di Italia

Triono Wahyu Sudibyo - detikFinance
Jumat, 17 Jun 2016 08:22 WIB
Kolaborasi Robot dan Pekerja Pabrik Pemanas Air Kelas Dunia di Italia
Foto: Dok. Ariston Thermo
Fabriano - Tidak semua hal bisa dikerjakan robot atau mesin. Karena itu, kehadiran manusia sangat penting. Demikian yang terjadi di pabrik Ariston Thermo di kawasan industri Genga, Marche, Italia. Robot dan pekerja saling mengisi untuk memastikan produk sesuai standar.

Pintu gerbang Genga Plant, pabrik Ariston Thermo, terbuka otomatis saat mobil hendak masuk kompleks, Selasa (14/6/2016). Kami, tiga jurnalis dari Indonesia, datang ditemani President Director Ariston Thermo Grup Indonesia, Richard Chua, dan Marketing Director Ariston Thermo Grup Indonesia, Feranti Susilowati.

Genga merupakan kota kecil di Italia, berbatasan dengan Fabriano, lokasi kelahiran Ariston Thermo. Genga dan Fabriano bisa dibilang sama-sama pelosok. Jarak dari Roma 200-an kilometer. Hampir sama dengan jarak Jakarta-Cirebon. Untuk mencapainya butuh waktu 3-4 jam lewat jalan darat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara geografis, Genga dan Fabriano terletak di bawah perbukitan. Lokasi pabrik Ariston sendiri seperti berada di ujung 'keramaian'. Di belakang dan samping kanan kompleks seluas 40 ribu meter persegi itu berupa bukit. Jalan utama juga di tengah celah bukit. Meski demikian, infrastruktur relatif bagus. Tol dan jalan terkoneksi rapi.

Dok. Ariston Thermo


Siang itu, saat kami datang ke Genga Plant, cuaca cukup cerah. Di Bulan Juni, Italia memang memasuki musim panas. Hanya saja, sesekali hujan turun. Suhu berada di kisaran 14-22 celcius.

Di pintu masuk kantor, kami disambut seorang karyawan dan Press and External Relation Ariston Thermo, Allesio Bianchini. Di sana, ada penjelasan sedikit soal proses produksi dan kondisi pabrik.

Setelah itu, kami diminta mengganti sepatu, mengenakan rompi, dan earphone. Kemudian berjalan kaki masuk ke 'dapur' produksi pemanas air yang berjarak cuma sepelemparan batu dari kantor. Menurut guide, suara di dalam pabrik sangat bising. Itulah guna earphone. Jadi, agar guide tak berteriak sia-sia.

Begitu pintu dibuka, suara besi beradu besi memang terdengar kencang. Di ruangan seukuran lapangan sepak bola itu terlihat lembaran besi dipotong mesin secara otomatis. Juga ada pengelasan untuk menyambungkan lembaran besi. Di bagian atap, tabung-tabung besi berdiameter 40 cm dan setinggi 50 meter yang masih dalam proses pengerjaan bergerak melalui rel memutar di ruangan.

Dok. Ariston Thermo


Tak banyak pekerja saat kami datang. Jumlahnya bisa dihitung jari. "Sebagian besar (proses produksi) memang dikerjakan oleh robot. Tapi ini (sepi) karena pergantian shift," kata sang guide dengan bahasa Inggris beraksen Italia sambil terus berjalan dan berhenti sesekali untuk menambahkan penjelasan.

Pabrik Ariston di Genga didirikan sejak 1964 dan mulai berproduksi 2 tahun kemudian. Saat ini, total pekerja berjumlah 250 orang dan terbagi dalam 3 shift. Sangat irit untuk ukuran pabrik besar.

Ada tiga lajur kolaborasi robot dan pekerja. Dua menghasilkan pemanas air elektrik, satu lainnya pemanas air gas. Tahapan pembuatan produk sangat panjang, mulai dari pemotongan bahan, pembentukan tabung, pemasangan tutup atas bawah dan kumparan, penyemprotan bagian dalam tabung agar tidak berkarat meski dipakai puluhan tahun, pengecatan, hingga pengecekan kemungkinan tabung cacat. Juga ada uji kualitas dengan cara dipanaskan dengan suhu ratusan derajat celcius.

"Kalau cacat, maka dikeluarkan (dari jalur produksi) dan dihancurkan," kata guide sambil menunjuk tabung yang sedang dicek pekerja.

Dok. Ariston Thermo


Karena banyak diselesaikan mesin dan robot, praktis pekerja hanya kebagian mengawasi proses produksi (mulai dari pemotongan bahan hingga pengecatan), mengangkut barang, dan mengepak. Terlihat sederhana, tapi sebetulnya ada unsur seni di dalamnya. Sebab butuh ketelitian untuk memastikan produk bisa dipakai di pasar global.

Ariston Thermo didirikan Aristide Merloni di Fabriano pada tahun 1930. Berawal dari timbangan, bisnis itu berkembang ke pemanas air 36 tahun kemudian dan sukses. Pada tahun 1970-an, Ariston Thermo telah menancapkan cengkeramannya di Eropa Barat.

Saat ini, Ariston Thermo dipegang oleh generasi ketiga, Paolo Merloni. Perusahaan keluarga tersebut memiliki 20 pabrik di 12 negara. Di Indonesia, mereka memiliki kantor perwakilan setelah 30 tahun memasarkan produknya.

Produk Ariston Thermo kian bervariasi. Bukan hanya pemanas air, melainkan penyimpan energi matahari dan beragam home appliance. "Proses dan prinsip (produksi) sama, tapi produknya bisa sedikit berbeda. Di Indonesia, ada pemanas air mode slim dan watt-nya rendah. Di negara lain belum tentu (ada)," kata President Director Ariston Thermo Indonesia, Richard Chua.

Dok. Ariston Thermo


Tur ke dapur Ariston Thermo berakhir dalam waktu kurang lebih satu jam. Di luar ternyata hujan. Suhu jadi dingin, meski saat ini musim panas. Mungkin itu pertimbangan, Aristide Merloni mengubah haluan dari memproduksi timbangan menjadi pemanas air puluhan tahun silam. Karena di Eropa, suhu pada musim panas kadang masih dingin. Dan, pemanas air tentu bakal laku.

(trw/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads