Punya Dataran Tinggi yang Luas, Kenapa RI Masih Impor Tembakau?

Punya Dataran Tinggi yang Luas, Kenapa RI Masih Impor Tembakau?

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 24 Agu 2016 15:16 WIB
Punya Dataran Tinggi yang Luas, Kenapa RI Masih Impor Tembakau?
Foto: M. Rofiq
Jakarta - Memiliki lahan di dataran tinggi yang luas, bukan jaminan Indonesia bebas dari ketergantungan tembakau impor. Catatan Kementerian Perindustrian, rata-rata kebutuhan tembakau nasional setiap tahunnya 330.000 ton.

Sedangkan produksi tembakau lokal hanya 180.000-190.000 ton, dan luas kebun tembakau di Indonesia saat ini tercatat 260.000 hektar. Sehingga sekitar 40% bahan baku rokok ini masih harus diimpor.

Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo), Muhaimin Moefti mengatakan, masih kurangnya pasokan tembakau lokal lantaran secara aspek bisnis, menanam tembakau kurang menguntungkan bagi petani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa harus impor? Masalahnya sulit. Kebutuhan tembakau selalu lebih besar dari permintaannya. Karena masalah bisnis saja kurang menguntungkan, bukan hanya soal harga saja," kata Muhaimin kepada detikFinance, Rabu (24/8/2016).

Dia melanjutkan, di dataran tinggi, meski cocok untuk tanaman tembakau, tak banyak petani yang menanamnya. Kurangnya perhatian pemerintah pada komoditas tembakau, jadi alasan produksinya tak banyak berubah sejak puluhan tahun lalu.

"Lahan memang ada, tapi produksi sedikit. Karena memang dulu-dulu tidak ada perhatian pemerintah. Baru-baru ini saja ada perhatian. Hanya soal bisnis saja," ujar Muhaimin. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads