Pengusaha Tekstil Sering Dipalak Preman, Bareskrim: Segera Lapor!

Yulida Medistiara - detikFinance
Senin, 29 Agu 2016 14:50 WIB
Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Sejumlah pengusaha tekstil mengeluhkan pungutan liar atau uang preman yang dilakukan sejumlah oknum masyarakat di sekitar pabrik. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri meminta pengusaha segera melaporkan hal ini.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Setya, mengatakan laporan tersebut bisa dilayangkan langsung ke Bareskrim atau ke kantor Menko Perekonomian.

"Itu dari perusahaan bisa langsung ke kepolisian bisa, ke menko ekonomi juga bisa, jadi silakan saja dipilih yang mana," katanya dalam acara 'Mengenal Investasi Ilegal' di Hotel Santika Premiere, Jakarta, Senin (29/8/2016).

Ia mengatakan, saat ini belum ada laporan spesifik dari para pengusaha tekstil mengenai hal ini. Namun sudah ada tim yang khusus menangani soal pemalakan preman ini.

"Banyak hal (hukuman) yang bisa kita terapkan kepada mereka, tapi kita lihat fakta seperti apa," ujarnya.

Pagi tadi, para pengusaha tekstil berkumpul di kantor Kementerian Perindustrian. Rombongan dipimpin Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat,

Menurut Ade, praktik pungutan sudah terjadi puluhan tahun menimbulkan keresahan terkait keamanan pabrik tekstil.

"Banyak masyarakat sekitar mengatasnamakan LSM, karang taruna, atau organisasi lain yang direstui Pemda. Dalam hal ini secure di bawah camat atau kepala desa yang sengaja buat surat minta uang pengamanan," ucap Ade saat acara breakfast meeting di Kementerian Perindustrian pagi tadi.

"Ini bikin resah kita, satu tahun satu oknum preman mereka minta Rp 20-25 juta. Ini luar biasa meresahkan saat tekstil ini sedang mengalami perlambatan," imbuhnya. (ang/dnl)